Italia, Arsene Wenger, dan Ballon d'Or
Ajang
Pemilihan Pemain Terbaik Dunia bertajuk Ballon d’Or 2015 berakhir
sudah. Pemenangnya adalah sosok yang sebelumnya sudah diprediksi dan
diduga akan memenangkannya, yaitu mega bintang Barcelona, Lionel Messi.
Pemilihan ini menyisakan hal-hal ‘spektakuler’ seperti raihan lima kali
Ballon d’Or Messi sebagai yang terbanyak dan (barangkali) sulit untuk
dikejar apalagi dilewati, dan (perlahan tapi pasti) mulai merangseknya
Neymar dalam ‘perebutan julukan’ sebagai yang terbaik di dunia.
Mencuatnya nama Wendell Lira – yang bukan pemain top dan berasal dari
klub tak terkenal di Liga Brasil – merebut Puskas Award dengan gol
cantik (yang menariknya) mengalahkan gol keren Lionel Messi yang juga
masuk nominasi adalah kejutan lainnya.
Tapi
(lagi-lagi) Ballon d’Or 2015 menyisakan ketidakpuasan dan suara-suara
nyinyir sebagaimana setiap ajang ini berakhir seperti
sebelum-sebelumnya. Jika tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya ajang
ini menyisakan ketidakpuasan oleh banyak pihak yang merasa bahwa
‘kandidat ini’ lebih layak dengan posisi yang lebih baik, atau bahkan
(seharusnya) meraih Ballon d’Or-nya ketimbang ‘kandidat itu’, tahun ini
bertambah dengan suara ketidaksetujuan atau suara menentang beberapa
pihak pada ajang ini.
Suara
ketidakpuasan memang masih muncul dari pihak yang menilai atau
menganggap bahwa Neymar lebih pantas menjadi runner up ketimbang
Cristiano Ronaldo. Tapi yang sekarang lebih banyak mencuat ke ranah
publik sepak bola adalah suara-suara yang menganggap bahwa ajang
penghargaan (individu) ini mencederai nilai sepak bola itu sendiri
sebagai permainan tim. Tidak seharusnya seorang pemain begitu
dielu-elukan seakan ia satu-satunya faktor kesuksesan sebuah tim. Karena
bagaimana pun kesuksesan sebuah tim sepak bola adalah hasil kerja
kolektif 11 orang pemain.
Jika
pun ada satu atau dua pemain yang menonjol dan perannya begitu vital
untuk menghidupkan permainan dan mengangkat semangat dan moral tim,
seharusnya tidak serta menjadi alasan untuk tak menganggap peran pemain
lain.
Suara
tak mendukung ajang ini disuarakan oleh arsitek Arsenal, Arsene Wenger
yang menyatakan bahwa ia tak mendukung penghargaan individu karena sepak
bola adalah permainan tim. Suara seperti itu bukan baru-baru ini saja
muncul, melainkan sudah sejak lama dicuatkan. Tetapi memang sekarang ini
gaungnya agak keras. Alasannya pun beragam. Jika sebelumnya hanya
sosok-sosok tertentu saja yang menyuarakan, sekarang ini bisa dibilang
mulai ramai.
Apalagi
dalam setiap penyelenggaraannya, ajang ini dianggap sarat intrik dan
sarat unsur politis. Beberapa nominator (yang akhirnya tak menang)
seperti Frank Ribbery pernah terang-terangan mengungkap kekecewaannya
lantaran ia merasa mencium aroma politis yang (katanya) kental terasa
dalam pemilihan itu.
Hal
miris lain yang tersisa dari ajang Ballon d’Or 2015 adalah tentang
Italia yang (kabarnya) memboikot pemilihan itu dengan tak memilih. Dan
lagi-lagi ini karena faktor ketidakpuasan. Menurut klaim media Italia,
Sky, FIGC (PSSI-nya Italia) memerintahkan kepada pelatih dan kapten
mereka Antonio Conte dan Gianluigi Buffon untuk tidak memilih dalam
ajang itu. (Baca artikel terkait di sini)
Alasannya
adalah sebagai bentuk protes karena Buffon tak masuk dalam daftar 49
pemain yang bisa dipilih sebagai pemenang. Padahal tahun lalu, sebagai
kapten, Buffon sukses mengantar Juventus meraih Scudetto dan Copa Italia
serta membawa Juve ke final Liga Champions di mana seharusnya pantas
untuk membuatnya setidaknya masuk daftar 49 kandidat.
Ketidakpuasan
dengan berbagai dalih atau suara menentang dengan bermacam argumentasi
selalu mewarnai sebuah ajang pemilihan. Karena pemilihan ‘segala
sesuatu’ yang terbaik pada dasarnya hanya memilih satu, sedangkan yang
ingin menang, dan merasa pantas menang, atau setidaknya pantas dijagokan
untuk menang jauh lebih banyak.
Sementara
tidak bisa dipungkiri bahwa di balik layar sebuah ajang pemilihan
selalu ada intrik yang dilakukan, selalu (dicurigai) ada politisasi di
sana. Tak bisa dibantah juga bahwa pihak-pihak yang berwenang, pihak
yang memiliki suara dalam ajang pemilihan terkadang main mata dengan
pihak-pihak yang berkepentingan ‘untuk menang’.
Mengenai
Ballon d’Or – yang merupakan penghargaan yang bersifat individu, yang
tak mungkin dipungkiri bahwa siapa pun pemenangnya akan membawa
kebanggaan pada klub atau negaranya – mulai banyak ditentang barangkali
juga karena setiap tahun ajang ini dipoles dan dipropagandakan
sedemikian rupa menjadi tampak glamor dan dijadikan sebagai raihan
tertinggi secara individu seorang pemain sepak bola.
Mungkin
setiap tahun akan muncul nama pemain yang benar-benar berhak untuk
disebut pemain terbaik dunia jika ajang ini dilakukan seperti pada
awalnya. Tidak usah dibuat polesan dan propaganda berlebihan. Tak perlu
disebut penghargaan tertinggi, atau penghargaan bergengsi.
Tapi,
apa menariknya mendapatkan sesuatu yang biasa-biasa saja, tak ada
prestise, tak ada glamor, tak dianggap sebagai yang tertinggi dan paling
bergengsi, tak perlu bersaing sengit untuk mendapatkannya, dan (kalau
perlu) melakukan intrik. Timbul pertanyaan saya kenapa ajang itu harus
tidak diadakan lagi. Sepak bola toh menjadi menarik bukan hanya karena
permainannya di lapangan, tapi juga serba serbi kehidupan yang
mengelilinginya yang membuat sepak bola menjadi semakin asyik untuk
diperbincangkan, menarik untuk dicermati, dan terkadang mendebarkan.
Toh
dalam permainan sepak bola itu sendiri kadang kurang gereget jika tak
ada intrik. Jika Barcelona dan Real Madrid sekali saja mencoba bermain
santun. Maka gereget El Clasico akan hambar bukan? Karena sepak bola
memang bukan hanya soal permainan (lagi), tapi sepak bola telah berubah
menjadi sesuatu yang membuat para pelaku dan semua yang terlibat,
termasuk penggemarnya menjadi ‘gila’. Dan orang terlanjur menyukai
kegilaan itu. Jika ada satu dua suara yang ingin ‘mengajak kembali pada
kewarasan’, sepak bola terlanjur budheg.
Link rujukan : http://bola.liputan6.com/read/2409662/ini-alasan-italia-tak-memilih-di-fifa-ballon-dor-2015
0 komentar:
Posting Komentar