cerita dunia sepak bola

Selasa, Januari 19, 2016

Dua Tragedi Besar

 

Rentang waktunya cukup lama, 64 tahun. ‘Tragedi’ pertama terjadi pada tanggal hari Minggu, 16 Juli 1950, dan ‘tragedi’ kedua terjadi 64 tahun kemudian, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014, kurang dari dua tahun lalu. Dengan melihat di kanal apa tulisan ini ditayangkan, anda tentu menangkap, tragedi apa yang dimaksud. Benar, dua kekalahan tim sepak bola Brasil di dua Piala Dunia yang dianggap sebagai ‘tragedi’ dan menjadi (seakan) monumental. Dua tragedi itu semuanya terjadi di ‘rumah’ mereka sendiri.

Tragedi pertama terjadi di Stadion Maracana dalam laga final round antara Brasil melawan Uruguay. Brasil menderita kekalahan mengejutkan 1 – 2 dalam laga itu yang membuat mimpi mereka mengangkat Piala Jules Rimet (nama trofi Piala Dunia ketika itu) di rumah sendiri sirna.

Di kemudian hari kekalahan itu dikenang secara pahit oleh masyarakat Brasil sebagai tragedi Maracanazo, atau tragedi yang terjadi di Stadion Maracana. Kekalahan yang takkan terlupakan.

Kekalahan itu begitu membekas dan sulit diterima masyarakat Brasil, karena bahkan sebelum pertandingan itu dimulai (ketika itu), pesta sudah disiapkan untuk menyambut kemenangan yang mereka anggap sudah tergenggam di tangan.

Sistem dalam Piala Dunia 1950 ketika itu berbeda dengan sistem Piala Dunia sebelumnya yang memakai sistem knock out. Kalah berarti pulang. Brasil ketika itu mengajukan sistem di mana 16 negara peserta dibagi menjadi 4 grup untuk babak penyisihan. Juara masing-masing grup di babak penyisihan tersebut akan saling bertemu dalam putaran final, dan tidak ada fase knock out. Pemimpin klasemen dari putaran finallah yang akan menjadi juara.

Brasil yang hanya membutuhkan hasil seri untuk merengkuh Piala Jules Rimet pertamanya menganggap bahwa pertandingan hari itu formalitas saja. Hanya ‘ritual’ untuk pesta mereka yang sebenarnya, mengangkat Piala Dunia kali pertama di ‘beranda’.

Upacara yang disiapkan adalah upacara menyambut ‘kemenangan Brasil’. Dan (Konon) medali sudah diukir dengan nama-nama pemain Brasil. Meski di Piala Dunia sebelumnya tak ada tradisi pengalungan medali, tapi Brasil menyiapkan medali dalam ‘menyambut kemenangan mereka’.

Tapi apa yang terjadi di lapangan Minggu petang itu sungguh sesuatu yang tak pernah mereka pikirkan akan terjadi. ‘Suasana menang’ yang merebak sebelum pertandingan itu seketika raib seperti raibnya kabut. Gol Uruguay melalui Alcides Edgardo Ghiggia menit ’79 yang mengubah kedudukan menjadi 1 – 2 untuk Uruguay adalah ‘matahari pagi’ yang menghisap seketika ‘kabut halusinasi kemenangan’ Brasil.

Hampir 200 ribu penonton yang memadati tribun Stadion Maracana dibuat tak percaya dengan kenyataan bahwa gegap gempita kemenangan mereka telah sirna seketika. Tangis merebak karena kemenangan itu diambil dari mereka. Kegembiraan besar yang ditunggu-tunggu untuk dirayakan petang itu telah dicuri sebelas pemain Uruguay.

Perasaan sudah menggenggam kemenangan bahkan sebelum pertandingan berlangsung membuat masyarakat Brasil sulit menerima kenyataan bahwa akhirnya bukan kemenangan yang mereka genggam, melainkan kekalahan. Dan mereka menganggap bahwa kekalahan Minggu petang itu adalah aib.

Keadaan itu pula yang membuat upacara penyerahan piala dan pengalungan medali terlupakan. Mereka sibuk meratap sehingga Uruguay, pemenang sebenarnya, menerima piala mereka tanpa upacara yang gegap gempita. Jules Rimet, Presiden FIFA kala itu yang namanya juga dipakai untuk menamai trofi, menyerahkan trofi tersebut langsung ke para pemain Uruguay tanpa memanggil mereka ke podium kehormatan. Tak pula ada pengalungan medali, karena tak ada medali yang dipersiapkan untuk mereka.

Rasa sulit menerima kekalahan itu pula yang membuat masyarakat Brasil kemudian menganggap bahwa itu adalah ‘dosa’ dari para pemain. Pemain yang terlibat dalam kekalahan itu mendapat perlakuan menyedihkan. Mereka dianggap sebagai aib sepak bola Brasil.

Federasi sepak bola yang marah kemudian melarang kiper berkulit hitam membela tim nasional, dan pemain-pemain yang terlibat dalam kekalahan itu dilarang tampil untuk Brasil di Piala Dunia.

Rakyat Brasil membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakan tragedi itu. Ketika Brasil resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia (lagi) pada tahun 2006, tragedi yang sudah coba dilupakan itu kembali membayangi, meski mereka juga mencoba berintrospeksi diri bahwa kekalahan itu bukan semata-mata ‘dosa pemain’ tapi juga dosa federasi dan pengurus yang ketika itu mengajukan format penyisihan grup dan final round yan tidak bisa tidak adalah demi kepentingan bisnis. Keuntungan dari penjualan tiket pertandingan. Semakin banyak pertandingan, semakin banyak uang didapat.

Publik sepak bola Brasil yang sulit untuk move on dari penyesalan tak berkesudahan itu menganggap seandainya Brasil tak memaksakan sistem itu dan Piala Dunia tetap dengan sistem knock out seperti sebelumnya, mereka bisa menjuarai Piala Dunia 1950 dan tak akan terjadi tragedi Maracanazo.

Ketika hari semakin mendekat pada jadwal diselenggarakannya Piala Dunia 2014, selain dibayangi trauma 1950, Brasil juga disibukkan dengan demo yang menentang diselenggarakannya Piala Dunia di Brasil. Mengingat untuk menyelenggarakan Piala Dunia di era modern dibutuhkan biaya yang sangat besar, sedangkan masalah paling fundamental di Brasil mengenai kesejateraan dan pendidikan menjadi adalah masalah yang semakin hari semakin pelik dan pemerintah Brasil semestinya memprioritaskan itu ketimbang membangun stadion dengan biaya besar tapi hanya akan berguna untuk sebulan saja.

Membangun stadion besar dan megah lengkap dengan sarana dan prasarana pendukung dianggap melukai hati (terutama) masyarakat miskin yang hidupnya jauh dari kata sejahtera. Mereka menganggap seharusnya uang yang digunakan untuk membangun stadion dan membangun sarana untuk Piala Dunia digunakan untuk membangun kesejateraan rakyat Brasil.

Tapi toh pembangunan dan renovasi banyak stadion yang ‘keteteran’ hingga mendekati hari H tetap dilanjutkan. Brasil bergeming dengan jeritan rakyatnya yang menentang Piala Dunia. Mereka lebih memilih memenuhi tuntutan FIFA terhadap venue Piala Dunia sesuai standar yang ditetapkan FIFA, daripada memenuhi tuntutan kesejahteraan rakyat mereka. Dan akhirnya Piala Dunia berlangsung (kembali) di Brasil, dengan biaya sangat mahal dan Brasil pun (sekali lagi) harus membayarnya dengan lebih mahal ketika laju turnamen sampai di babak semifinal.

Setelah melewati babak penyisihan dan fase 16 besar, serta perempat final dengan gagah perkasa, Brasil tiba di semifinal dengan lawan yang tangguh, Jerman. Tim spesialis turnamen, juara dunia tiga kali dan berjuluk De Panzer.

Brasil dan suporternya (minus) sebagian masyarakat yang menolak Piala Dunia memang tidak ‘mabuk kemenangan’ sebelum bertanding sebagaimana yang terjadi di tahun 1950. Tapi rasa percaya diri mereka dengan sejarah bahwa mereka adalah yang paling banyak merengkuh Piala Dunia(lima kali). Berbeda dengan 64 tahun sebelumnya yang bahkan sekali pun belum pernah juara dunia. Faktor lain tentu saja karena mereka bertanding di ‘rumah’, lalu skuad mereka diisi bintang-bintang cemerlang dengan prestasi tak sembarang yang bertebaran di kompetisi Eropa.

Yang mereka sedikit lupa (barangkali) hanya bahwa Jerman adalah tim spesialis turnamen yang mental juaranya tak pernah diragukan. Hanya peluit tanda akhir pertandingan yang bisa menghentikan mereka.

Rabu, 9 Juli 2014 semifinal yang mempertemukan Brasil dan Jerman berlangsung di Estadio Mineirao. Sepuluh menit pertama Brasil mendominasi pertandingan dan tampaknya pertandingan akan menjadi ‘milik’ Brasil. Faktor belum pernah ada negara Eropa yang mampu menjadi juara jika Piala Dunia berlangsung di benua Amerika membuat banyak pengamat sedikit mengunggulkan Brasil.

Sedikit keraguan barangkali muncul karena absennya Neymar yang cedera parah dalam pertandingan sebelumnya, serta absennya palang pintu tangguh sekaligus kapten mereka Thiago Silva. Tapi mereka tak kehilangan optmisme.

Tapi rupanya hanya sepuluh menit pertama saja Brasil ‘memiliki’ pertandingan itu. setelah itu mereka mendadak menjadi sekumpulan orang-orang bodoh di lapangan yang tidak tahu harus berbuat apa. Nafsu menyerang yang membuat mereka asyik membuat celah di pertahanan yang berhasil dimanfaatkan para pemain Jerman.

Menit sebelas, tragedi kedua setelah Maracanazo 16 Juli 1950 dimulai. Thomas Muller mencetak gol pertama dengan leluasa karena ia ‘lupa dijaga’. Pemain bertahan Brasil sibuk ‘menghentikan’ Miroslav Klose, tapi kehilangan kewaspadaan pada pemain lain termasuk Muller yang licin di kotak penalti.

Gol pertama menyentak Brasil, sekilas sebiji gol tidak akan berarti apa-apa untuk tim sekelas Brasil. Siapa pun yang menyaksikan pertandingan itu, tentu akan berpikir, Brasil akan membalasnya. Segera atau tidak, Brasil akan membalasnya.

Tapi yang terjadi setelah gol pertama seperti sebuah anomali untuk sepuluh menit awal yang ‘berhasil’ untuk Brasil. Mereka seperti kebingungan dan mereka seperti bukan lagi orang-orang yang ada di sepuluh menit pertama.

Selang 12 menit kemudian Miroslav Klose yang ketat dijaga (yang disinyalir agar tak mencetak gol dan melewati rekor gol Ronaldo sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia) akhirnya benar-benar menjebol gawang Brasil dan gol itu mengejutkan lebih karena prosesnya tampak mudah bagi pemain-pemain Jerman. Seperti mencetak gol di gawang tim yang bukan Brasil.

Gol itu selain menjadi pukulan yang ‘menumbangkan’ tim Brasil juga membuat Klose benar-benar melewati rekor Ronaldo. Ibarat petinju yang terkapar karena pukulan telak untuk kali kedua, ketika mencoba berdiri maka ia tak setegap dan pandangan matanya tak sejernih sebelum terjatuh. Demikian juga dengan Brasil. Setelah gol kedua mereka benar-benar seperti petinju yang kalut dan nanar. Tak pelak Toni Kroos ‘mendaratkan pukulan telak’ lagi dengan gol ketiga semenit berselang. Belum sempat bisa mengatur nafas lagi, Kroos menghunjamkan pukulan kembali dua menit setelahnya. Baru tiga menit berdiri, Sami Khedira membuat tim Samba terkapar lagi. Hanya dalam 19 menit setelah 10 menit pertama yang ‘normal’ untuk tim sehebat mereka, mereka tersungkur lima kali.

 Bukan hanya suporter mereka yang terpana, tapi juga mata dunia. Barangkali para pencetak gol Jerman pun lebih banyak heran kenapa mereka bisa mencetak gol demi gol dengan begitu mudahnya alih-alih senang melakukannya.

Sungguh sulit untuk berharap sebuah tim (tim mana pun itu) akan mampu membalikkan keadaan ketika selisih golnya adalah lima. Babak kedua dimulai dengan tatapan kosong pada sebelas pemain berkaos kuning. Mata mereka dan para suporternya pun sama kosongnya. Jerman semakin tangguh untuk dilawan. Serangan mereka yang ‘tak bernyawa’ tak bisa menembus pertahanan Jerman yang terlanjur kokoh karena angin sejuk yang berhembus dari gol yang berjumlah lima di babak pertama.

Sungguh tak adil untuk mengatakan bahwa para pemain Brasil menjadi sekumpulan orang-orang konyol yang berlari-lari di lapangan tanpa tujuan yang jelas, seperti orang-orang tak pernah bermain bola sebelumnya. Tapi kenyataan di lapangan mengatakan lebih dari itu. Apalagi ketika Andre Schurrle menambah dua ‘pukulan’ lagi. Meski di menit terakhir Oscar ‘berhasil’ mencetak sebiji gol balasan, tapi gol itu sedikit pun tak bisa menawarkan rasa pahit dari kekalahan itu. Mereka tersingkir dengan cara yang menyakitkan.

Tragedi kedua kali tak terelakkan lagi terjadi. Kali ini jauh lebih memalukan jika dilihat dari jumlah gol yang mengoyak gawang mereka. Penderitaan mereka tak cukup sampai di sini. Rupanya belum puas aib memberangus Brasil di rumah mereka sendiri. Dalam laga perebutan tempat ketiga, Belanda 'gantian' mempermalukan mereka dengan skor 3 - 0.

Piala Dunia ‘mahal’ yang menguras uang negara harus dibayar lebih mahal karena mereka tersingkir dengan cara yang amat menyakitkan dan memalukan. Untuk kali keduanya Brasil gagal menjadi juara di ‘rumah’. Maracanazo sudah dianggap aib, sulit dilupakan, membuat pemain yang terlibat ‘harus menanggung dosa’ seumur hidup mereka, membuat mereka trauma kala resmi ditunjuk (kembali) menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, dan ternyata ketakutan mereka menjadi nyata. Tapi Maracanazo bisa jadi tak lebih memalukan dibanding apa yang terjadi di Estadio Mineirao yang kemudian media memelintirnya menjadi ‘Mineirazo’ atau tragedi Mineirao, mengacu pada tragedi Maracanazo.

Barangkali tak akan dianggap aib atau pun tragedi seandainya Brasil tak lebih dulu merasa menang sebelum bertanding pada final round melawan Uruguay. Euforia mereka barangkali terlalu berlebihan seakan kemenangan sudah di tangan, padahal segala sesuatu bisa terjadi pada pertandingan sepak bola yang lamanya 90 menit. (Hal yang juga pernah terjadi pada tim nasional Indonesia dalam gelaran Piala AFF 2010, di mana Indonesia ‘yang sudah merasa menang’ bahkan sebelum final dimainkan harus menerima kenyataan bahwa Malaysia mampu menggulungnya dengan skor 3 – 0 di final leg pertama. Indonesia yang tersentak oleh kejutan itu hanya mampu menang 2 – 1 di Jakarta dan kemenangan yang sudah dianggap dalam genggaman menjadi halusinasi palsu yang memabukkan sehingga sulit diterima kala melihat kenyataan bahwa Malaysialah juaranya).

Ketika Uruguay ternyata mampu mempecundangi mereka, mereka menganggap bahwa itu tragedi, memalukan, menumpahkan kesalahan ‘hanya’ pada pemain. Barangkali juga karena mereka terlalu jumawa karena mempersiapkan upacara kemenangan ‘hanya untuk Brasil’ tanpa memperhitungkan bahwa kemenangan untuk Uruguay pun mungkin terjadi, dan kenyataannya memang terjadi.

Belakangan juga muncul tudingan berdosa kepada Federasi sepak bola Brasil yang kala itu memaksakan sistem berbeda demi keuntungan bisnis.

Tragedi kedua di semifinal Piala Dunia 2014 barangkali bukan lagi ‘dosa berjamaah’ tapi (barangkali) lebih karena ‘karma’ untuk Brasil yang ‘jor-joran’ memanjakan FIFA dengan segala tuntutannya mengenai segala sesuatu yang layak untuk menyelenggarakan Piala Dunia dengan membangun stadion-stadion megah lengkap dengan sarana dan prasarananya yang menghisap dana pemerintah, tapi melupakan jutaan rakyat mereka yang menjerit karena masalah kemiskinan dan kesejahteraan. Piala Dunia tetap diselenggarakan tanpa mempedulikan mereka.

Piala Dunia era sekarang adalah Piala Dunia yang penuh dengan gemerlap. FIFA memiliki standar bagi negara-negara yang berminat menggelar Piala Dunia di ‘halaman rumah’ mereka. Minimal harus memiliki 8 sampai 10 stadion bintang 5 dengan kapasitas tempat duduk di atas 50 ribu orang. Stadion itu sendiri juga harus memiliki sarana lengkap. Belum tetek bengek lain yang tentunya sangat mahal bila sebuah negara harus membangunnya dari nol.

Negara elit Eropa seperti Inggris, Jerman, Italia, atau Spanyol barangkali tak akan terlalu pusing soal stadion atau sarana lain yang mereka memang sudah memilikinya sejak lama. Jika mereka akan menjadi tuan rumah Piala Dunia mungkin cukup memperbaikinya saja. Tapi negara-negara lain yang tak memiliki sarana-saana itu tapi ingin menyelenggarakan Piala Dunia, seperti Brasil dan Afrika Selatan sebelumnya, tentu harus ‘berantem’ dulu dengan rakyatnya karena biaya untuk menyediakan sarana-sarana’standar FIFA’ mahal sekali adanya.

Jangan lupa bahwa FIFA sekarang sudah menjelma menjadi organisasi bisnis, alih-alih mengelola sepak bola dunia. Semua sarana harus sesuai dengan keinginan para penyandang dana (sponsor). Sepak bola sekarang adalah industri, orientasinya bisnis. Jadi biarlah Piala Dunia berlangsung di tempat yang memang mampu menyelenggarakannya. Pesertanya pun biarlah mereka saja yang punya darah birunya. Darah kita merah, kita bisa selenggarakan piala “dunia kita sendiri” bersama kawan-kawan kita sesama darah merah.

Pelajaran yang bisa kita petik dari dua tragedi itu adalah, pertama, janganlah merasa memiliki sesuatu yang masih disimpan waktu di masa depan. Meski masa depan itu hanya berjarak satu jam dari sekarang dan kita memiliki lebih dari sekedar peluang besar untuk memilikinya. Jangan merasa menang sebelum perang dilakukan, dan dalam perang itu kita mampu kalahkan musuh. Hormati lawan dan siapkan upacara kemenangan untuk siapa saja, termasuk lawan. Jangan menilai musuh sebelum kita menghadapi dan merasakan keras atau lembeknya perlawanannya.

Kedua, jangan karena mencintai sepak bola lalu menganggap bahwa kita juga harus ikut piala dunia, harus menjuarai AFF, harus menjadi tuan rumah piala dunia, harus ini atau harus itu. Afrika Selatan dan Brasil adalah contoh nyata dari ambisi mengejar keagungan dan kegemerlapan Piala Dunia di ‘halaman rumah’ yang fatamorgana. Stadion-stadion milyaran dollar mereka pada akhirnya hanya memberi kebanggaan sebulan saja.

Tendanglah bola sekuat kaki kita melakukannya, mainkan secerdas kita menyiasatinya. Sepak bola anak-anak kita di halaman tak terikat dan terafiliasi kemana-mana, tapi kegembiraan tetap mewarnainya, bahkan bagi mereka yang menderita kalah.

gambar

0 komentar:

Posting Komentar