Dua Tragedi Besar
Rentang
waktunya cukup lama, 64 tahun. ‘Tragedi’ pertama terjadi pada tanggal
hari Minggu, 16 Juli 1950, dan ‘tragedi’ kedua terjadi 64 tahun
kemudian, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014, kurang dari dua tahun lalu. Dengan
melihat di kanal apa tulisan ini ditayangkan, anda tentu menangkap,
tragedi apa yang dimaksud. Benar, dua kekalahan tim sepak bola Brasil di
dua Piala Dunia yang dianggap sebagai ‘tragedi’ dan menjadi (seakan)
monumental. Dua tragedi itu semuanya terjadi di ‘rumah’ mereka sendiri.
Tragedi
pertama terjadi di Stadion Maracana dalam laga final round antara
Brasil melawan Uruguay. Brasil menderita kekalahan mengejutkan 1 – 2
dalam laga itu yang membuat mimpi mereka mengangkat Piala Jules Rimet
(nama trofi Piala Dunia ketika itu) di rumah sendiri sirna.
Di
kemudian hari kekalahan itu dikenang secara pahit oleh masyarakat
Brasil sebagai tragedi Maracanazo, atau tragedi yang terjadi di Stadion
Maracana. Kekalahan yang takkan terlupakan.
Kekalahan
itu begitu membekas dan sulit diterima masyarakat Brasil, karena bahkan
sebelum pertandingan itu dimulai (ketika itu), pesta sudah disiapkan
untuk menyambut kemenangan yang mereka anggap sudah tergenggam di
tangan.
Sistem
dalam Piala Dunia 1950 ketika itu berbeda dengan sistem Piala Dunia
sebelumnya yang memakai sistem knock out. Kalah berarti pulang. Brasil
ketika itu mengajukan sistem di mana 16 negara peserta dibagi menjadi 4
grup untuk babak penyisihan. Juara masing-masing grup di babak
penyisihan tersebut akan saling bertemu dalam putaran final, dan tidak
ada fase knock out. Pemimpin klasemen dari putaran finallah yang akan
menjadi juara.
Brasil
yang hanya membutuhkan hasil seri untuk merengkuh Piala Jules Rimet
pertamanya menganggap bahwa pertandingan hari itu formalitas saja. Hanya
‘ritual’ untuk pesta mereka yang sebenarnya, mengangkat Piala Dunia
kali pertama di ‘beranda’.
Upacara
yang disiapkan adalah upacara menyambut ‘kemenangan Brasil’. Dan
(Konon) medali sudah diukir dengan nama-nama pemain Brasil. Meski di
Piala Dunia sebelumnya tak ada tradisi pengalungan medali, tapi Brasil
menyiapkan medali dalam ‘menyambut kemenangan mereka’.
Tapi
apa yang terjadi di lapangan Minggu petang itu sungguh sesuatu yang tak
pernah mereka pikirkan akan terjadi. ‘Suasana menang’ yang merebak
sebelum pertandingan itu seketika raib seperti raibnya kabut. Gol
Uruguay melalui Alcides Edgardo Ghiggia menit ’79 yang mengubah
kedudukan menjadi 1 – 2 untuk Uruguay adalah ‘matahari pagi’ yang
menghisap seketika ‘kabut halusinasi kemenangan’ Brasil.
Hampir
200 ribu penonton yang memadati tribun Stadion Maracana dibuat tak
percaya dengan kenyataan bahwa gegap gempita kemenangan mereka telah
sirna seketika. Tangis merebak karena kemenangan itu diambil dari
mereka. Kegembiraan besar yang ditunggu-tunggu untuk dirayakan petang
itu telah dicuri sebelas pemain Uruguay.
Perasaan
sudah menggenggam kemenangan bahkan sebelum pertandingan berlangsung
membuat masyarakat Brasil sulit menerima kenyataan bahwa akhirnya bukan
kemenangan yang mereka genggam, melainkan kekalahan. Dan mereka
menganggap bahwa kekalahan Minggu petang itu adalah aib.
Keadaan
itu pula yang membuat upacara penyerahan piala dan pengalungan medali
terlupakan. Mereka sibuk meratap sehingga Uruguay, pemenang sebenarnya,
menerima piala mereka tanpa upacara yang gegap gempita. Jules Rimet,
Presiden FIFA kala itu yang namanya juga dipakai untuk menamai trofi,
menyerahkan trofi tersebut langsung ke para pemain Uruguay tanpa
memanggil mereka ke podium kehormatan. Tak pula ada pengalungan medali,
karena tak ada medali yang dipersiapkan untuk mereka.
Rasa
sulit menerima kekalahan itu pula yang membuat masyarakat Brasil
kemudian menganggap bahwa itu adalah ‘dosa’ dari para pemain. Pemain
yang terlibat dalam kekalahan itu mendapat perlakuan menyedihkan. Mereka
dianggap sebagai aib sepak bola Brasil.
Federasi
sepak bola yang marah kemudian melarang kiper berkulit hitam membela
tim nasional, dan pemain-pemain yang terlibat dalam kekalahan itu
dilarang tampil untuk Brasil di Piala Dunia.
Rakyat
Brasil membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakan tragedi itu.
Ketika Brasil resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia (lagi) pada
tahun 2006, tragedi yang sudah coba dilupakan itu kembali membayangi,
meski mereka juga mencoba berintrospeksi diri bahwa kekalahan itu bukan
semata-mata ‘dosa pemain’ tapi juga dosa federasi dan pengurus yang
ketika itu mengajukan format penyisihan grup dan final round yan tidak
bisa tidak adalah demi kepentingan bisnis. Keuntungan dari penjualan
tiket pertandingan. Semakin banyak pertandingan, semakin banyak uang
didapat.
Publik
sepak bola Brasil yang sulit untuk move on dari penyesalan tak
berkesudahan itu menganggap seandainya Brasil tak memaksakan sistem itu
dan Piala Dunia tetap dengan sistem knock out seperti sebelumnya, mereka
bisa menjuarai Piala Dunia 1950 dan tak akan terjadi tragedi
Maracanazo.
Ketika
hari semakin mendekat pada jadwal diselenggarakannya Piala Dunia 2014,
selain dibayangi trauma 1950, Brasil juga disibukkan dengan demo yang
menentang diselenggarakannya Piala Dunia di Brasil. Mengingat untuk
menyelenggarakan Piala Dunia di era modern dibutuhkan biaya yang sangat
besar, sedangkan masalah paling fundamental di Brasil mengenai
kesejateraan dan pendidikan menjadi adalah masalah yang semakin hari
semakin pelik dan pemerintah Brasil semestinya memprioritaskan itu
ketimbang membangun stadion dengan biaya besar tapi hanya akan berguna
untuk sebulan saja.
Membangun
stadion besar dan megah lengkap dengan sarana dan prasarana pendukung
dianggap melukai hati (terutama) masyarakat miskin yang hidupnya jauh
dari kata sejahtera. Mereka menganggap seharusnya uang yang digunakan
untuk membangun stadion dan membangun sarana untuk Piala Dunia digunakan
untuk membangun kesejateraan rakyat Brasil.
Tapi
toh pembangunan dan renovasi banyak stadion yang ‘keteteran’ hingga
mendekati hari H tetap dilanjutkan. Brasil bergeming dengan jeritan
rakyatnya yang menentang Piala Dunia. Mereka lebih memilih memenuhi
tuntutan FIFA terhadap venue Piala Dunia sesuai standar yang ditetapkan
FIFA, daripada memenuhi tuntutan kesejahteraan rakyat mereka. Dan
akhirnya Piala Dunia berlangsung (kembali) di Brasil, dengan biaya
sangat mahal dan Brasil pun (sekali lagi) harus membayarnya dengan lebih
mahal ketika laju turnamen sampai di babak semifinal.
Setelah
melewati babak penyisihan dan fase 16 besar, serta perempat final
dengan gagah perkasa, Brasil tiba di semifinal dengan lawan yang
tangguh, Jerman. Tim spesialis turnamen, juara dunia tiga kali dan
berjuluk De Panzer.
Brasil
dan suporternya (minus) sebagian masyarakat yang menolak Piala Dunia
memang tidak ‘mabuk kemenangan’ sebelum bertanding sebagaimana yang
terjadi di tahun 1950. Tapi rasa percaya diri mereka dengan sejarah
bahwa mereka adalah yang paling banyak merengkuh Piala Dunia(lima kali).
Berbeda dengan 64 tahun sebelumnya yang bahkan sekali pun belum pernah
juara dunia. Faktor lain tentu saja karena mereka bertanding di ‘rumah’,
lalu skuad mereka diisi bintang-bintang cemerlang dengan prestasi tak
sembarang yang bertebaran di kompetisi Eropa.
Yang
mereka sedikit lupa (barangkali) hanya bahwa Jerman adalah tim
spesialis turnamen yang mental juaranya tak pernah diragukan. Hanya
peluit tanda akhir pertandingan yang bisa menghentikan mereka.
Rabu,
9 Juli 2014 semifinal yang mempertemukan Brasil dan Jerman berlangsung
di Estadio Mineirao. Sepuluh menit pertama Brasil mendominasi
pertandingan dan tampaknya pertandingan akan menjadi ‘milik’ Brasil.
Faktor belum pernah ada negara Eropa yang mampu menjadi juara jika Piala
Dunia berlangsung di benua Amerika membuat banyak pengamat sedikit
mengunggulkan Brasil.
Sedikit
keraguan barangkali muncul karena absennya Neymar yang cedera parah
dalam pertandingan sebelumnya, serta absennya palang pintu tangguh
sekaligus kapten mereka Thiago Silva. Tapi mereka tak kehilangan
optmisme.
Tapi
rupanya hanya sepuluh menit pertama saja Brasil ‘memiliki’ pertandingan
itu. setelah itu mereka mendadak menjadi sekumpulan orang-orang bodoh
di lapangan yang tidak tahu harus berbuat apa. Nafsu menyerang yang
membuat mereka asyik membuat celah di pertahanan yang berhasil
dimanfaatkan para pemain Jerman.
Menit
sebelas, tragedi kedua setelah Maracanazo 16 Juli 1950 dimulai. Thomas
Muller mencetak gol pertama dengan leluasa karena ia ‘lupa dijaga’.
Pemain bertahan Brasil sibuk ‘menghentikan’ Miroslav Klose, tapi
kehilangan kewaspadaan pada pemain lain termasuk Muller yang licin di
kotak penalti.
Gol
pertama menyentak Brasil, sekilas sebiji gol tidak akan berarti apa-apa
untuk tim sekelas Brasil. Siapa pun yang menyaksikan pertandingan itu,
tentu akan berpikir, Brasil akan membalasnya. Segera atau tidak, Brasil
akan membalasnya.
Tapi
yang terjadi setelah gol pertama seperti sebuah anomali untuk sepuluh
menit awal yang ‘berhasil’ untuk Brasil. Mereka seperti kebingungan dan
mereka seperti bukan lagi orang-orang yang ada di sepuluh menit pertama.
Selang
12 menit kemudian Miroslav Klose yang ketat dijaga (yang disinyalir
agar tak mencetak gol dan melewati rekor gol Ronaldo sebagai pencetak
gol terbanyak di Piala Dunia) akhirnya benar-benar menjebol gawang
Brasil dan gol itu mengejutkan lebih karena prosesnya tampak mudah bagi
pemain-pemain Jerman. Seperti mencetak gol di gawang tim yang bukan
Brasil.
Gol
itu selain menjadi pukulan yang ‘menumbangkan’ tim Brasil juga membuat
Klose benar-benar melewati rekor Ronaldo. Ibarat petinju yang terkapar
karena pukulan telak untuk kali kedua, ketika mencoba berdiri maka ia
tak setegap dan pandangan matanya tak sejernih sebelum terjatuh.
Demikian juga dengan Brasil. Setelah gol kedua mereka benar-benar
seperti petinju yang kalut dan nanar. Tak pelak Toni Kroos ‘mendaratkan
pukulan telak’ lagi dengan gol ketiga semenit berselang. Belum sempat
bisa mengatur nafas lagi, Kroos menghunjamkan pukulan kembali dua menit
setelahnya. Baru tiga menit berdiri, Sami Khedira membuat tim Samba
terkapar lagi. Hanya dalam 19 menit setelah 10 menit pertama yang
‘normal’ untuk tim sehebat mereka, mereka tersungkur lima kali.
Bukan
hanya suporter mereka yang terpana, tapi juga mata dunia. Barangkali
para pencetak gol Jerman pun lebih banyak heran kenapa mereka bisa
mencetak gol demi gol dengan begitu mudahnya alih-alih senang
melakukannya.
Sungguh
sulit untuk berharap sebuah tim (tim mana pun itu) akan mampu
membalikkan keadaan ketika selisih golnya adalah lima. Babak kedua
dimulai dengan tatapan kosong pada sebelas pemain berkaos kuning. Mata
mereka dan para suporternya pun sama kosongnya. Jerman semakin tangguh
untuk dilawan. Serangan mereka yang ‘tak bernyawa’ tak bisa menembus
pertahanan Jerman yang terlanjur kokoh karena angin sejuk yang berhembus
dari gol yang berjumlah lima di babak pertama.
Sungguh
tak adil untuk mengatakan bahwa para pemain Brasil menjadi sekumpulan
orang-orang konyol yang berlari-lari di lapangan tanpa tujuan yang
jelas, seperti orang-orang tak pernah bermain bola sebelumnya. Tapi
kenyataan di lapangan mengatakan lebih dari itu. Apalagi ketika Andre
Schurrle menambah dua ‘pukulan’ lagi. Meski di menit terakhir Oscar
‘berhasil’ mencetak sebiji gol balasan, tapi gol itu sedikit pun tak
bisa menawarkan rasa pahit dari kekalahan itu. Mereka tersingkir dengan
cara yang menyakitkan.
Tragedi
kedua kali tak terelakkan lagi terjadi. Kali ini jauh lebih memalukan
jika dilihat dari jumlah gol yang mengoyak gawang mereka. Penderitaan
mereka tak cukup sampai di sini. Rupanya belum puas aib memberangus
Brasil di rumah mereka sendiri. Dalam laga perebutan tempat ketiga,
Belanda 'gantian' mempermalukan mereka dengan skor 3 - 0.
Piala
Dunia ‘mahal’ yang menguras uang negara harus dibayar lebih mahal
karena mereka tersingkir dengan cara yang amat menyakitkan dan
memalukan. Untuk kali keduanya Brasil gagal menjadi juara di ‘rumah’.
Maracanazo sudah dianggap aib, sulit dilupakan, membuat pemain yang
terlibat ‘harus menanggung dosa’ seumur hidup mereka, membuat mereka
trauma kala resmi ditunjuk (kembali) menjadi tuan rumah Piala Dunia
2014, dan ternyata ketakutan mereka menjadi nyata. Tapi Maracanazo bisa
jadi tak lebih memalukan dibanding apa yang terjadi di Estadio Mineirao
yang kemudian media memelintirnya menjadi ‘Mineirazo’ atau tragedi
Mineirao, mengacu pada tragedi Maracanazo.
Barangkali
tak akan dianggap aib atau pun tragedi seandainya Brasil tak lebih dulu
merasa menang sebelum bertanding pada final round melawan Uruguay.
Euforia mereka barangkali terlalu berlebihan seakan kemenangan sudah di
tangan, padahal segala sesuatu bisa terjadi pada pertandingan sepak bola
yang lamanya 90 menit. (Hal yang juga pernah terjadi pada tim nasional
Indonesia dalam gelaran Piala AFF 2010, di mana Indonesia ‘yang sudah
merasa menang’ bahkan sebelum final dimainkan harus menerima kenyataan
bahwa Malaysia mampu menggulungnya dengan skor 3 – 0 di final leg
pertama. Indonesia yang tersentak oleh kejutan itu hanya mampu menang 2 –
1 di Jakarta dan kemenangan yang sudah dianggap dalam genggaman menjadi
halusinasi palsu yang memabukkan sehingga sulit diterima kala melihat
kenyataan bahwa Malaysialah juaranya).
Ketika
Uruguay ternyata mampu mempecundangi mereka, mereka menganggap bahwa
itu tragedi, memalukan, menumpahkan kesalahan ‘hanya’ pada pemain.
Barangkali juga karena mereka terlalu jumawa karena mempersiapkan
upacara kemenangan ‘hanya untuk Brasil’ tanpa memperhitungkan bahwa
kemenangan untuk Uruguay pun mungkin terjadi, dan kenyataannya memang
terjadi.
Belakangan
juga muncul tudingan berdosa kepada Federasi sepak bola Brasil yang
kala itu memaksakan sistem berbeda demi keuntungan bisnis.
Tragedi
kedua di semifinal Piala Dunia 2014 barangkali bukan lagi ‘dosa
berjamaah’ tapi (barangkali) lebih karena ‘karma’ untuk Brasil yang
‘jor-joran’ memanjakan FIFA dengan segala tuntutannya mengenai segala
sesuatu yang layak untuk menyelenggarakan Piala Dunia dengan membangun
stadion-stadion megah lengkap dengan sarana dan prasarananya yang
menghisap dana pemerintah, tapi melupakan jutaan rakyat mereka yang
menjerit karena masalah kemiskinan dan kesejahteraan. Piala Dunia tetap
diselenggarakan tanpa mempedulikan mereka.
Piala
Dunia era sekarang adalah Piala Dunia yang penuh dengan gemerlap. FIFA
memiliki standar bagi negara-negara yang berminat menggelar Piala Dunia
di ‘halaman rumah’ mereka. Minimal harus memiliki 8 sampai 10 stadion
bintang 5 dengan kapasitas tempat duduk di atas 50 ribu orang. Stadion
itu sendiri juga harus memiliki sarana lengkap. Belum tetek bengek lain
yang tentunya sangat mahal bila sebuah negara harus membangunnya dari
nol.
Negara
elit Eropa seperti Inggris, Jerman, Italia, atau Spanyol barangkali tak
akan terlalu pusing soal stadion atau sarana lain yang mereka memang
sudah memilikinya sejak lama. Jika mereka akan menjadi tuan rumah Piala
Dunia mungkin cukup memperbaikinya saja. Tapi negara-negara lain yang
tak memiliki sarana-saana itu tapi ingin menyelenggarakan Piala Dunia,
seperti Brasil dan Afrika Selatan sebelumnya, tentu harus ‘berantem’
dulu dengan rakyatnya karena biaya untuk menyediakan
sarana-sarana’standar FIFA’ mahal sekali adanya.
Jangan
lupa bahwa FIFA sekarang sudah menjelma menjadi organisasi bisnis,
alih-alih mengelola sepak bola dunia. Semua sarana harus sesuai dengan
keinginan para penyandang dana (sponsor). Sepak bola sekarang adalah
industri, orientasinya bisnis. Jadi biarlah Piala Dunia berlangsung di
tempat yang memang mampu menyelenggarakannya. Pesertanya pun biarlah
mereka saja yang punya darah birunya. Darah kita merah, kita bisa
selenggarakan piala “dunia kita sendiri” bersama kawan-kawan kita sesama
darah merah.
Pelajaran
yang bisa kita petik dari dua tragedi itu adalah, pertama, janganlah
merasa memiliki sesuatu yang masih disimpan waktu di masa depan. Meski
masa depan itu hanya berjarak satu jam dari sekarang dan kita memiliki
lebih dari sekedar peluang besar untuk memilikinya. Jangan merasa menang
sebelum perang dilakukan, dan dalam perang itu kita mampu kalahkan
musuh. Hormati lawan dan siapkan upacara kemenangan untuk siapa saja,
termasuk lawan. Jangan menilai musuh sebelum kita menghadapi dan
merasakan keras atau lembeknya perlawanannya.
Kedua,
jangan karena mencintai sepak bola lalu menganggap bahwa kita juga
harus ikut piala dunia, harus menjuarai AFF, harus menjadi tuan rumah
piala dunia, harus ini atau harus itu. Afrika Selatan dan Brasil adalah
contoh nyata dari ambisi mengejar keagungan dan kegemerlapan Piala Dunia
di ‘halaman rumah’ yang fatamorgana. Stadion-stadion milyaran dollar
mereka pada akhirnya hanya memberi kebanggaan sebulan saja.
Tendanglah
bola sekuat kaki kita melakukannya, mainkan secerdas kita
menyiasatinya. Sepak bola anak-anak kita di halaman tak terikat dan
terafiliasi kemana-mana, tapi kegembiraan tetap mewarnainya, bahkan bagi
mereka yang menderita kalah.
0 komentar:
Posting Komentar