cerita dunia sepak bola

Senin, Februari 01, 2016

Atletico Sayang, Atletico Malang

Akhir pekan lalu saya merasa agak gembira ketika dalam ‘tur pencet-pencet remote’ menemukan siaran langsung pertandingan besar dua penguasa klasemen sementara La Liga, Barcelona vs Atletico Madrid. Perasaan gembira itu selain karena belakangan ini siaran langsung pertandingan sepak bola di saluran gratis mendekati kelangkaan, juga karena berada pada jam-jam yang masih lumayan sore.

Pertandingan yang tak kalah pamor dengan El Clasico menurut saya, merujuk pada persaingan ke duanya di puncak klasemen saat ini. Kecuali anda fanatik pada salah satu klub, anda pasti berharap pertandingan yang seimbang yang diwarnai dengan saling serang, penuh trik, penuh intrik, yang membuat anda geregetan mengingat mereka tengah sengit berebut puncak klasemen untuk mengamankan titel juara di akhir musim. Saya pun berharap begitu.

Barcelona dengan segala superioritasnya jelas tak terbantahkan, tapi Atletico di bawah Diego Simeone adalah tim yang bergairah. Apa yang mereka tunjukkan sampai pekan lalu menegaskan hal itu. Entah bagaimana Simeone bisa membuat mereka yang ‘bukan bintang cemerlang’ bisa menjadi ‘nyamuk nakal’ yang menggelisahkan Barcelona dan Real Madrid.

Atletico berhasil memenuhi harapan itu dalam pertandingan akhir pekan lalu. Meredam superioritas Barcelona. Superioritas itu membosankan, bahkan, cenderung menjengkelkan. Menang terlalu mudah dalam sebuah pertandingan ‘tanpa perlawanan’ itu menyedihkan. Menang dengan susah payah dan berdarah-darah, itu baru seru.

Sejak Kick Off, Atletico membuat pemain Barcelona gagap, seperti pemain gitar yang kelupaan ‘kunci kord’ dalam sebuah konser. Permainan melodi menjadi sedikit kacau, karena Atletico mampu membuat distorsi dengan irama yang menghentak. Orkestra Barcelona yang biasanya mengalun mereka buyarkan dengan distorsi ala musik metal. Permainan menjadi tak mudah bagi Barcelona, tapi inilah yang membuat pertandingan menjadi hidup. Sesuatu yang anti mainstream terkadang memang menghibur, bukan?

Nuansa pertandingan akan berjalan seru dan sengit, di mana Barcelona mungkin akan berdarah-darah untuk memenangkannya semakin terasa ketika Koke dengan tengilnya membobol gawang Claudio Bravo. Modal bagus untuk menekan Iniesta cs di rumah mereka sendiri.

Tentu saja Barcelona kemudian dengan segenap ‘potensi yang ada’ mencoba memperbaiki keadaan. Setelah gol Koke, Atletico yang di menit awal sampai gol itu terjadi tampak ulet dan licin, entah mengapa sedikit kendor. Mereka memang tak terlihat akan bertahan dengan keunggulan satu gol tersebut. Tapi tekanan mereka agak berkurang.

Mereka berhasil membuat Messi mati kutu sejak menit pertama, tapi ketika sekejap saja mereka kelepasan menjaga si kutu, gawang mereka ikut terbelah juga. Gol Messi tampak lebih membawa efek kejut ketimbang gol Koke.

Pertandingan semakin menggairahkan. Seperti dua pecatur yang ulet, tak ada yang ditunggu keduanya kecuali tentu saja kelengahan masing-masing. Serangan-serangan Atletico kemudian tampak lebih menggigit dan membuat pertahanan Pique cs lumayan pontang-panting.

Sekilas pertandingan akan terasa alot setelah kedudukan 1 – 1, sampai akhirnya para pemain bertahan Atletico sadar bahwa mereka harus membayar mahal ketika sekali saja seseorang bernama Luis Suarez ‘terlepas’. Dani Alves tiba-tiba membuat keputusan untuk memberi umpan panjang ke depan. Entahlah, pada titik ini barangkali dia merasa jika ia memberi umpan pendek sebagaimana biasa, mungkin lagi-lagi akan mentok oleh ketatnya para pemain Atletico yang malam itu seperti penjudi yang terus memegang kartu bagus.

Maka umpan panjang Alves membuat Suarez nyalang, dua pengawal dan Jan Oblak sendiri tak cukup untuk menghentikan Suarez. 2 – 1.

Tapi, meskipun begitu, Simeone mungkin memang seorang peracik strategi dan motivator ulung. Para pemain Atletico tak kehilangan gairah meski dalam dua kali kelengahan, dua kali itu pula gawang mereka bobol. Pertandingan tetap tak mudah bagi Barcelona. Saya bahkan berpikir, bisa jadi pertandingan itu akan seri, Atletico malam itu tak seperti Real Madrid yang pada laga El Clasico pertama musim ini seakan ‘lupa’ cara bermain sepak bola, dan ‘lupa’ bahwa mereka adalah bintang-bintang yang sama terang.

Sampailah kemudian pada menit 44 saat Filipe Luis melakukan sesuatu yang mengejutkan. Melanggar Messi dengan keras tepat di depan hidung Luis Enrique. Sang pelatih marah bukang kepalang, dan wasit mencabut kartu dengan warna yang menjadi sinyal bahwa pertandingan seru itu ‘sudah berakhir’ setengah babak sebelum waktu sebenarnya. Kartu merah.

Mereka memang tertinggal, tapi pelanggaran itu terlalu konyol untuk dilakukan tim yang justru sedang menekan, meskipun tertinggal. Mereka berhasil menekan, menguapkan superioritas Barcelona di rumah sendiri, tapi salah seorang pemain membuat keputusan ‘salah’ karena tak berhasil menjaga suhu di kepala.

Tapi ajaibnya, usai turun minum, pemain Atletico yang tinggal sepuluh orang itu tetap ‘terlihat lebih banyak’ dari para pemain Barcelona yang masih utuh sebelas orang. Tak berbeda seperti ketika jumlah mereka sama banyak. Mereka tetap sanggup membuat Barcelona repot. Bahkan, Antoine Griezmann hampir membuat gol penyeimbang jika saja kaki Claudio Bravo tak menjadi ‘lantaran’ keberuntungan Barcelona.

Saya salah sangka, pertandingan ternyata tetap seru, tetap menarik, dan superioritas Barcelona seperti mengendap entah di mana oleh ‘kegairahan’ anak-anak asuh Simeone. Tapi lagi-lagi, dalam satu hal, yaitu mengendalikan emosi baik secara tim maupun individu, para pemain Atletico harus belajar banyak dari Barcelona. Diego Godin kembali melakukan pelanggaran berat terhadap Luis Suarez yang berujung kartu kuning kedua dan itu berarti kartu merah untuknya dan kartu merah kedua untuk Atletico.

Sembilan orang. Jelas kondisi yang pincang dan menghadirkan ironi atas apa yang sudah ditampilkan Atletico sejak menit pertama. Mereka berhasil menekan, membuat pertandingan cenderung ‘mudah’ bagi mereka. Tapi kegairahan mereka dinodai oleh rasa frustasi mereka sendiri. Mereka berhasil membuat Andres Iniesta tampak bodoh dengan berkali-kali salah umpan, Rakitic seperti anak kecil yang berlari-lari di lapangan tanpa tahu untuk tujuan apa ia melakukan itu. Neymar tampak seperti bukan Neymar, Suarez seperti hilang di lapangan, dan Messi? Ia mungkin lupa mengunci lemari tempat ia meletakkan ke lima trofi Ballon d’Ornya, sehingga ia gelisah karena takut seseorang masuk rumah dan mengambilnya. Jadi ia hanya terlihat pada saat pemain bertahan Atletico ‘lupa’ mengapitnya dan memberi gol yang mengejutkan.

Dalam hal membuat para kreator Barcelona mati kutu, Atletico berhasil, dalam hal membuat suporter tuan rumah yang memadati Camp Nou ketar-ketir, mereka pun sukses. Pun dalam hal memaksa para pemain Barcelona memainkan bola di area pertahanan mereka sendiri di mana berkali-kali mereka berhasil merebutnya dan membuat kotak penalti Claudio Bravo seakan dilanda gempa setiap serangan tiba di sana, mereka juga sukses. Apresiasi untuk Atletico Madrid dan Diego Simeone dalam hal ini patut diberikan.

Saya yakin anda juga memberi nilai plus pada Atletico Madrid. Karena meskipun Godin menyusul Filipe Luis keluar, sembilan koleganya tetap mampu menghadirkan apa yang sebelumnya mereka kerjakan bersebelas. Ini luar biasa karena tim yang mereka hadapi adalah Barcelona. Kenyataan pula bahwa sampai akhir pertandingan, skor 2 – 1 tetap bertahan. Sembilan pemain (maaf) ‘bukan bintang’ Atletico mampu tampil lebih baik ketimbang sebelas bintang cemerlang Real Madrid dalam menghadapi Barcelona.

Bayangkan jika Filipe Luis dan Diego Godin bisa menahan diri dan mereka tak harus keluar lapangan. Ada satu keberhasilan Barcelona selain dua gol yang dibuat dalam ‘dua kesempatan langka’ mereka malam itu. Yaitu daya tahan mereka terhadap situasi sulit. Pengalaman memang sesuatu yang tak terbantah manfaatnya. Mereka sudah ribuan kali berada dalam situasi sulit. Mereka boleh mati kutu, mereka boleh seperti seseorang yang belum pernah bermain sepak bola. Tapi mereka tetap mampu menjaga ‘suhu kepala’ mereka. Seringkali, lawan merekalah yang gagal menjaga dinginnya kepala. Seperti Atletico akhir pekan lalu.
Ingat saat akhirnya mereka disingkirkan Chelsea di semifinal Liga Champions 2011/2012? Situasi mereka sulit. Chelsea bermain oportunis dengan bertahan sepanjang laga dan memetik keberuntungan dari serangan balik yang berbuah gol. Tapi rasa frustasi itu tak membuat mereka bermain kasar. Mereka tersingkir, tapi Chelsea-lah yang banyak dicela lantaran memainkan sepak bola bertahan yang membosankan.

Malam itu Barcelona tertekan, sebelas pemain Atletico (kemudian berkurang menjadi sepuluh, dan lalu sembilan) rasanya menjelma menjadi lebih banyak di lapangan. Seharusnya para pemain Barcelona yang frustasi, yang bermain kasar. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Dua pemain bertahan Atletico gagal ‘bermain bersih’. Meskipun ini juga manusiawi karena usaha ‘mematikan’ para pemain bintang Barcelona tentu menguras energi mereka, dan tugas mereka pun bukan hanya semata-mata untuk itu, melainkan juga memenangkan pertandingan. Sedang tim yang mereka hadapi adalah tim terbaik di dunia saat ini, dengan barisan pemain berskil tinggi yang memiliki motivasi memenangkan setiap pertandingan siapa pun lawannya, dan dalam situasi apa pun.

Situasi sulit Atletico sebenarnya hanya ketertinggalan satu gol, sementara situasi sulit Barcelona adalah sulitnya permainan mereka berkembang seperti biasanya karena keberhasilan para pemain Atletico meredamnya. Barcelona bisa dikatakan tak bisa keluar dari situasi sulit itu sepanjang pertandingan karena dengan sembilan pemain pun Atletico tetap sanggup memberikan ancaman.

Seandainya tak ada dua pelanggaran yang berujung kartu merah, bukan saja pertandingan itu akan berjalan jauh lebih sengit, melainkan juga bisa dimenangi Atletico, atau setidaknya seri, dan selisih poin mereka tak melebar. Menjaga kepala tetap dingin dalam situasi sulit memang jauh lebih sulit daripada situasi sulit itu sendiri. Dan seringkali, seseorang gagal karena bukan semata-mata karena situasi sulitnya, melainkan karena mengambil keputusan yang salah akibat kepala yang terlanjur ‘terpanaskan’ situasi sulit.

Rabu, Januari 20, 2016

Hukuman Penalti dan Kartu Merah (Ingin) Dihapuskan?

  

Adalah keinginan yang disampaikan Presiden FC Barcelona, Josep Maria Bartomeau yang disampaikan kepada FIFA bahwa penalti dan kartu merah adalah dua hal yang mengurangi keindahan dan intensitas sebuah permainan sepak bola, jadi sebaiknya penalti dan kartu merah itu dihapuskan dari sepak bola.

Keinginan itu mencuat usai pertandingan antara Barcelona melawan Athletic Bilbao yang berkesudahan 6 – 0 untuk Barcelona di lanjutan La Liga. Pada pertandingan itu, Bilbao harus mendapat penalti sekaligus kehilangan kiper mereka Gorka Iraizoz yang melanggar Luis Suarez pada saat pertandingan baru memasuki menit ke 4. Keadaan yang menurut Bartomeau membuat pertandingan kemudian berjalan tak seimbang dan membosankan.

Penalti adalah hukuman untuk pelanggaran yang dilakukan di dalam garis kotak di depan gawang yang juga disebut kotak penalti, berupa tendangan langsung ke gawang dengan hanya si penjaga gawang seorang tim yang dihukum penalti yang boleh menghadangnya.

Kartu merah diberikan apabila pelanggaran berat (yang bisa mencederai fisik dan mengancam masa depan pemain yang dilanggar) dilakukan seorang pemain terhadap pemain lawan. Kartu merah yang diberikan wasit kepada seorang pemain  yang melakukan pelanggaran adalah tanda bahwa seorang pemain tersebut harus keluar meninggalkan permainan dan tak bisa diganti dengan pemain lain. Hukuman demikian diterapkan agar pemain sepak bola bisa mengontrol diri sehingga permainan sepak bola sendiri menjadi permainan yang ‘bersih’ yang bebas dari banyaknya pelanggaran.

Tak jarang seorang pemain melakukan pelanggaran berat yang berujung kartu merah, di kotak penalti pula. Keadaan yang bisa membuat sebuah tim mendapat dua hukuman sekaligus. Tendangan penalti dan kehilangan seorang pemain di sepanjang sisa waktu pertandingan.

Tak jarang pula bahwa kartu merah atau penalti, atau bahkan kartu merah sekaligus penalti seringkali menjadi momen yang mengubah jalannya pertandingan. Mempengaruhi intesitasnya dan ‘celakanya’ lebih sering membuat ‘keseruan’ dari sebuah pertandingan hilang, karena tim yang mendapat hukuman tersebut menjadi kehilangan ‘angin’.

Bagaimana pun, kartu merah akan membuat sebuah tim berkurang seorang pemainnya menjadi hanya 10, melawan 11 pemain lawan. Lalu penalti sendiri adalah hukuman yang sanggup membuat sebuah tim goyah. Ketika wasit meniup peluit tanda pelanggaran dan menunjuk titik putih berjarak 12 meter di depan mulut gawang tanda penalti, seringkali terasa bahwa tim itu ‘sudah’ kemasukan satu gol.

Keinginan itu bisa jadi akan didukung oleh banyak pihak yang (tak jarang) berpendapat bahwa kartu merah atau penalti itu sangat merugikan sebuah tim, bahkan bisa menghilangkan peluang menang sebuah tim. Apalagi sebuah hukuman penalti terkadang bukan datang dari pelanggaran yang dilakukan di dalam kotak penalti oleh pemain tim yang bertahan, melainkan dari kelicikan pemain penyerang lawan yang melakukan diving, menjatuhkan diri seakan-akan dia dilanggar.

Keinginan Bartomeau yang disampaikan itu bisa menjadi dilema. Akan menjadi perdebatan karena kecuali banyak yang (mungkin) mendukung, tapi tentunya tak sedikit pula yang menentang.

Jika dua jenis hukuman itu dihilangkan, barangkali memang akan membuat sebuah pertandingan sepak bola tak kehilangan ‘keseruan’ dan ‘sensasi’ tensi tingginya dari dua tim yang bertanding. Sepak bola tidak akan kehilangan keindahannya.

Tapi bagaimana dengan sportifitas? Jelas, keinginan Bartomeau akan sulit untuk diterapkan. Tanpa hukuman kartu merah, seorang pemain, atau bahkan sebuah tim, tidak akan ragu melakukan segala cara untuk menang. Termasuk melakukan pelanggaran. Tanpa penalti, seorang pemain bertahan akan ‘main kayu’ untuk mempertahankan gawangnya.

Dan yang pasti, pemain yang dilanggar hanya akan menjadi ‘korban’ belaka. Apakah itu seru? Apakah seorang Bartomeau tak berpikir bagaimana jika seorang ‘Messinya’ dilanggar (dengan berat dan beresiko cedera) oleh pemain bertahan lawan, dengan lawan tak mendapat hukuman apa pun?

Memang kartu merah dan penalti bisa menjadi momen yang merubah ‘keseruan’ sebuah pertandingan sepak bola, ‘merampok’ tensinya dan merugikan tim yang menerimanya. Tapi apa pun, itu adalah ‘hadiah’ dari ‘dosa’ yang dilakukannya. Tanpa menafikan banyak kejadian di mana wasit yang kurang jeli sering membuat keputusan yang salah (seperti diving penyerang lawan di kotak penalti), sebuah tim memang dituntut bermain bersih. Karena permainan bertensi tinggi tapi bersih dan penuh penghormatan terhadap lawan itulah yang sebenarnya merupakan keindahan dan keluarbiasaan sepak bola.

Ada peraturan dalam sebuah permainan, tapi seiring waktu, selalu ada keinginan untuk merubah suatu aturan permainan yang sudah diterapkan. Celakanya, terkadang perubahan itu diinginkan demi mengakomodasi satu ‘sudut pandang tertentu’ yang jika diterapkan sebenarnya justru membuat sebuah permainan kembali seperti pada saat aturan yang mengakomodasi semua celah keadilan dan sportifitas belum diterapkan.

Tentu saja kasihan bagi tim jika pertandingan baru beberapa menit berjalan, tiba-tiba mendapat kartu merah, tiba-tiba mendapat penalti, atau mendapat penalti dan kartu merah sekaligus. Akan menguntungkan tim lawan dan pertandingan akan berjalan kurang seimbang, atau pertandingan itu kehilangan tensinya.

Tapi apa pun, kartu merah atau penalti itu adalah komitmen sebuah dua tim yang bertanding. Dua tim harus bermain sportif jika tak ingin kehilangan tensi atau keindahan atau apa pun dalam sepak bola. Lagipula, bukankah manis dan membanggakan jika menang dengan ‘bersih’?

Tapi bukan tak mungkin usulan itu dipertimbangkan FIFA, dan (mungkin) diterapkan entah seperti apa bentuknya. Kenapa mungkin? Karena usulannya datang dari orang dari klub besar. ‘Orang besar’ suaranya menggelegar, biar pun konyol, nyatanya lebih sering di dengar. Orang kecil suaranya kecil, seperti kilik-kilik yang menggatalkan kuping, bukan didengar, tapi malah bisa digampar.

Bisa dibayangkan jika keinginan Bartomeau diterapkan, sportifitas bisa menguap dari sepak bola. Seorang pemain atau sebuah tim tak akan ragu-ragu untuk melanggar demi kemenangan. Bayangkan juga jika itu diterapkan di Indonesia. Horor, bukan? 

Perancis dan Dua Kenangan Manis


Perancis sudah dua kali menjadi tuan rumah Piala Dunia, 1938 dan 1998. Mereka sukses menjadi tuan rumah sekaligus sukses merebut trofi Piala Dunia pertamanya di perhelatan edisi 1998, mengikuti catatan Uruguay yang juga sukses juara saat menjadi tuan rumah di tahun 1930, Italia 1934, Inggris 1966, Jerman (Barat) 1974, dan Argentina 1978. Sukses sebagai penyelenggara dan sukses menjadi juaranya sudah pasti merupakan kebanggaan tersendiri. Brasil yang lima kali juara dunia pun tak pernah mampu melakukannya ketika dua kali menjadi tuan rumah Piala Dunia.

Pada perhelatan mayor lain, yakni Piala Eropa, Perancis juga sudah dua kali menjadi tuan rumah, yaitu edisi perdana tahun 1960 dan 1984, bahkan akan menjadi tuan rumah untuk ketiga kalinya tahun ini pada Euro 2016 Juni-Juli mendatang. Pada edisi kedua menjadi tuan rumah di tahun 1984, Perancis juga sukses sebagai penyelenggara sekaligus juara. Sukses serupa di gelaran Piala Eropa juga pernah dirasakan Spanyol pada edisi 1964 dan Italia pada 1968.

Dua perhelatan terakhir sebagai tuan rumah (Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 1998) dengan dua-duanya menjadi juara adalah kenangan sangat manis untuk Perancis. Apalagi sukses menjadi juara dunia untuk pertama kalinya di rumah sendiri pada 1998 diikuti kesuksesan mereka merebut trofi Eropa keduanya pada Piala Eropa tahun 2000 di Belanda-Belgia. Itu adalah tahun-tahun keperkasaan sepak bola Perancis menguasai sepak bola dunia dan Eropa.

Pada dua ajang berbeda di tanah mereka yang masing-masing berbuah kesuksesan tersebut, pasukan Perancis diisi oleh dua generasi emas mereka. Pada 1984, nama Michel Platini, Jean Tigana, Alain Giresse, dan Luis Fernandez adalah sederet bintang yang merupakan generasi emas Perancis ketika itu. Sementara di tahun 1998 adalah tahun dimana hampir seluruh anggota skuad timnas Perancis adalah pemain bintang yang bermain di klub-klub top Eropa.

Nama-nama seperti Zinedine Zidane, Didier Deschamps, Christian Karembeu, Marcel Desailly, Emanuel Petit, Bixente Lizarazu, Fabien Barthez, Lauren Blanc, dan sederet bintang lain adalah ikon sukses Perancis menguasai Dunia dan Eropa di awal milenium.

Kini, di tahun 2016, tepatnya Juni-Juli nanti, Perancis kembali akan menjadi tuan rumah untuk Piala Eropa. Sebagaimana di dua edisi terakhir sebagai tuan rumah (Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 1984) yang dua-duanya berakhir manis, tentu mereka ingin mengulang hal itu tahun ini. Kenangan manis itu adalah energi tersendiri untuk Perancis. Nikmat menjadi juara di kandang sendiri bagi Si Ayam Jantan barangkali lebih nikmat dari masakan Perancis yang (katanya) paling nikmat sejagad, atau, (mungkin) malah lebih nikmat dari ‘sekedar’ org**m!

Jadi, siapa yang tak ingin mengulanginya lagi? Betapa tidak, begitu diterima dari tangan Presiden UEFA, lalu diangkat tinggi-tinggi dari lantai podium, dan kemudian dibawa lari berputar mengelilingi lapangan stadion dalam victory lap, trofi juara (katakanlah) bisa langsung diarak keliling kota!

Tak disangkal, pasti lembar-lembar album di tahun 1984 dan 1998 sedang kembali dibuka oleh mereka. Lalu mereka mencoba menemukan semangat dan hasrat yang terprasasti di dalamnya untuk coba direngkuh dan coba direinkarnasikan di dada mereka.

‘Michel Platini, Zinedine Zidane, ah, dua ikon kesuksesan di dua ajang berbeda itu masih hidup. Masih bisa ditemui dan bisa dimintai petuahnya, dikopi hasrat dan semangatnya untuk dipaste-kan di dada. Apa yang tak mungkin, peluang ada dan selalu terbuka.’

‘Mereka punya Pogba, punya Giroud dan punya Benzema (jika federasi berubah pikirannya). Apa yang tak mereka bisa, mereka bermain di klub-klub juara, dengan peran vital yang tak biasa, belum lagi sederet bintang beken lainnya.’

Dua paragraf (sok) puitis di atas barangkali adalah semangat yang coba direngkuh Perancis menyongsong gelaran Piala Eropa edisi sekian (2016) yang akan digelar kembali di ‘halaman rumah’ mereka. Tak pelak, meski kenangan 1984 dan 1998 memberi mereka berjuta hasrat, semangat, dan harapan, tapi kenangan itu juga bisa menjadi beban. Karena jadi seperti ada keharusan menjadi juara.

Pada 1998, Perancis mencoba mengambil hasrat dan semangat tahun 1984 dengan desain jersey yang dibuat (nyaris) serupa. Hasilnya, sungguh luar biasa. Semangat dan hasrat itu tersalin sempurna bahkan nuansanya lebih membanggakan lantaran salinan hasrat dan semangat itu menghasilkan Piala Dunia.

Sekarang sepertinya Perancis tidak ‘menyalin’ hasrat dan semangat 1984 dan 1998 dengan desain jersey. Mungkin mereka menyalin dalam bentuk lain. Tak bisa dipungkiri bahwa sebuah tim akan membuka memori para senior saat merengkuh keberhasilan di masa lampau. Mencoba mengambil semangatnya dan mengulang kesuksesannya. Dan Perancis sedang (kembali) mencoba melakukannya.

Di lain tempat, ada pula Jerman yang sedang membuka kembali buku album seniornya. Gerd Muller dan Franz Beckenbauer sukses membawa Jerman (Barat kala itu) merengkuh trofi Eropa 1972 dan menyandingkannya dengan gelar Piala Dunia dua tahun berikutnya di tanah Bavaria.

Jerman juga pasti tergoda untuk mengulang sukses itu meski terbalik posisinya jika bisa. Seperti Perancis dan Spanyol (yang lebih gila) yang pernah melakukannya. Merebut Piala Dunia, dan menjuarai Eropa dua tahun berikutnya. Setelah sukses di Piala Dunia Brasil 2014, Jerman tentu ingin menyandingkannya dengan gelar Eropa.

Bukan hanya tuan rumah dan Jerman yang ingin sukses. Belgia yang sedang panen generasi emas juga mengincar gelar pertama. Dan lain-lain, dan lain-lain, termasuk negara-negara yang baru ikut turnamen untuk kali pertama. Jika ada sedikit yang mengganjal, barangkali adalah karena tidak hadirnya Belanda yang gagal lolos dan banyak orang yang menyayangkan hal ini karena Belanda memang favorit banyak penggemar sepak bola. Uniknya, juara Piala Eropa 1988 itu juga absen di tahun 1984 lalu saat Perancis sukses.

Apakah ketidakhadiran Belanda (lagi) ini pertanda Perancis akan kembali sukses? Tidak tahu.

Jelasnya, Piala Eropa tahun ini yang tinggal beberapa bulan lagi akan kembali menghadirkan ‘musim bola’, musim begadang, musim taruhan (kumat lagi), musim rejeki pedagang jersey replika, musim ngantuk dan loyo di waktu kerja, dan lain sebagainya. Topik pembicaraan mengenai bola akan ada di rumah-rumah, kantor, pos (pos kamling, pos perbatasan, pos satpam, pos polisi, pos tentara, pos ojek, dll), penjara, sekolahan, pondok, warung, sawah, kebun, ladang, jalanan, terminal, bahkan mungkin tempat pros*****i (kalau masih ada). Bahkan saling ejek antar pendukung tim anu dengan tim itu.

Bagi Perancis, Jerman, dan para peserta lainnya, Piala Eropa adalah hasrat dan semangat mereka menjadi penguasa sepak bola di jagad Eropa. Bagi kita, Piala Eropa adalah hiburan untuk melepas kepenatan (jika disiarkan dan masih bisa ditonton gratis), dan sejenak membebaskan tivi dari serbuan sinetron dan bermacam acara guyon yang tak mendidik serta monoton.

Jadi, mari kita tunggu apakah Perancis kembali mengulang kenangan manis, atau Jerman yang sukses mengawinkan gelar Dunia dan Eropa, meniru Perancis dan Spanyol dengan sama  persis, atau negara lain yang akhirnya sukses di tanah Perancis.

Salam manis.

Selasa, Januari 19, 2016

Dua Tragedi Besar

 

Rentang waktunya cukup lama, 64 tahun. ‘Tragedi’ pertama terjadi pada tanggal hari Minggu, 16 Juli 1950, dan ‘tragedi’ kedua terjadi 64 tahun kemudian, tepatnya Rabu, 9 Juli 2014, kurang dari dua tahun lalu. Dengan melihat di kanal apa tulisan ini ditayangkan, anda tentu menangkap, tragedi apa yang dimaksud. Benar, dua kekalahan tim sepak bola Brasil di dua Piala Dunia yang dianggap sebagai ‘tragedi’ dan menjadi (seakan) monumental. Dua tragedi itu semuanya terjadi di ‘rumah’ mereka sendiri.

Tragedi pertama terjadi di Stadion Maracana dalam laga final round antara Brasil melawan Uruguay. Brasil menderita kekalahan mengejutkan 1 – 2 dalam laga itu yang membuat mimpi mereka mengangkat Piala Jules Rimet (nama trofi Piala Dunia ketika itu) di rumah sendiri sirna.

Di kemudian hari kekalahan itu dikenang secara pahit oleh masyarakat Brasil sebagai tragedi Maracanazo, atau tragedi yang terjadi di Stadion Maracana. Kekalahan yang takkan terlupakan.

Kekalahan itu begitu membekas dan sulit diterima masyarakat Brasil, karena bahkan sebelum pertandingan itu dimulai (ketika itu), pesta sudah disiapkan untuk menyambut kemenangan yang mereka anggap sudah tergenggam di tangan.

Sistem dalam Piala Dunia 1950 ketika itu berbeda dengan sistem Piala Dunia sebelumnya yang memakai sistem knock out. Kalah berarti pulang. Brasil ketika itu mengajukan sistem di mana 16 negara peserta dibagi menjadi 4 grup untuk babak penyisihan. Juara masing-masing grup di babak penyisihan tersebut akan saling bertemu dalam putaran final, dan tidak ada fase knock out. Pemimpin klasemen dari putaran finallah yang akan menjadi juara.

Brasil yang hanya membutuhkan hasil seri untuk merengkuh Piala Jules Rimet pertamanya menganggap bahwa pertandingan hari itu formalitas saja. Hanya ‘ritual’ untuk pesta mereka yang sebenarnya, mengangkat Piala Dunia kali pertama di ‘beranda’.

Upacara yang disiapkan adalah upacara menyambut ‘kemenangan Brasil’. Dan (Konon) medali sudah diukir dengan nama-nama pemain Brasil. Meski di Piala Dunia sebelumnya tak ada tradisi pengalungan medali, tapi Brasil menyiapkan medali dalam ‘menyambut kemenangan mereka’.

Tapi apa yang terjadi di lapangan Minggu petang itu sungguh sesuatu yang tak pernah mereka pikirkan akan terjadi. ‘Suasana menang’ yang merebak sebelum pertandingan itu seketika raib seperti raibnya kabut. Gol Uruguay melalui Alcides Edgardo Ghiggia menit ’79 yang mengubah kedudukan menjadi 1 – 2 untuk Uruguay adalah ‘matahari pagi’ yang menghisap seketika ‘kabut halusinasi kemenangan’ Brasil.

Hampir 200 ribu penonton yang memadati tribun Stadion Maracana dibuat tak percaya dengan kenyataan bahwa gegap gempita kemenangan mereka telah sirna seketika. Tangis merebak karena kemenangan itu diambil dari mereka. Kegembiraan besar yang ditunggu-tunggu untuk dirayakan petang itu telah dicuri sebelas pemain Uruguay.

Perasaan sudah menggenggam kemenangan bahkan sebelum pertandingan berlangsung membuat masyarakat Brasil sulit menerima kenyataan bahwa akhirnya bukan kemenangan yang mereka genggam, melainkan kekalahan. Dan mereka menganggap bahwa kekalahan Minggu petang itu adalah aib.

Keadaan itu pula yang membuat upacara penyerahan piala dan pengalungan medali terlupakan. Mereka sibuk meratap sehingga Uruguay, pemenang sebenarnya, menerima piala mereka tanpa upacara yang gegap gempita. Jules Rimet, Presiden FIFA kala itu yang namanya juga dipakai untuk menamai trofi, menyerahkan trofi tersebut langsung ke para pemain Uruguay tanpa memanggil mereka ke podium kehormatan. Tak pula ada pengalungan medali, karena tak ada medali yang dipersiapkan untuk mereka.

Rasa sulit menerima kekalahan itu pula yang membuat masyarakat Brasil kemudian menganggap bahwa itu adalah ‘dosa’ dari para pemain. Pemain yang terlibat dalam kekalahan itu mendapat perlakuan menyedihkan. Mereka dianggap sebagai aib sepak bola Brasil.

Federasi sepak bola yang marah kemudian melarang kiper berkulit hitam membela tim nasional, dan pemain-pemain yang terlibat dalam kekalahan itu dilarang tampil untuk Brasil di Piala Dunia.

Rakyat Brasil membutuhkan waktu yang sangat lama untuk melupakan tragedi itu. Ketika Brasil resmi ditunjuk menjadi tuan rumah Piala Dunia (lagi) pada tahun 2006, tragedi yang sudah coba dilupakan itu kembali membayangi, meski mereka juga mencoba berintrospeksi diri bahwa kekalahan itu bukan semata-mata ‘dosa pemain’ tapi juga dosa federasi dan pengurus yang ketika itu mengajukan format penyisihan grup dan final round yan tidak bisa tidak adalah demi kepentingan bisnis. Keuntungan dari penjualan tiket pertandingan. Semakin banyak pertandingan, semakin banyak uang didapat.

Publik sepak bola Brasil yang sulit untuk move on dari penyesalan tak berkesudahan itu menganggap seandainya Brasil tak memaksakan sistem itu dan Piala Dunia tetap dengan sistem knock out seperti sebelumnya, mereka bisa menjuarai Piala Dunia 1950 dan tak akan terjadi tragedi Maracanazo.

Ketika hari semakin mendekat pada jadwal diselenggarakannya Piala Dunia 2014, selain dibayangi trauma 1950, Brasil juga disibukkan dengan demo yang menentang diselenggarakannya Piala Dunia di Brasil. Mengingat untuk menyelenggarakan Piala Dunia di era modern dibutuhkan biaya yang sangat besar, sedangkan masalah paling fundamental di Brasil mengenai kesejateraan dan pendidikan menjadi adalah masalah yang semakin hari semakin pelik dan pemerintah Brasil semestinya memprioritaskan itu ketimbang membangun stadion dengan biaya besar tapi hanya akan berguna untuk sebulan saja.

Membangun stadion besar dan megah lengkap dengan sarana dan prasarana pendukung dianggap melukai hati (terutama) masyarakat miskin yang hidupnya jauh dari kata sejahtera. Mereka menganggap seharusnya uang yang digunakan untuk membangun stadion dan membangun sarana untuk Piala Dunia digunakan untuk membangun kesejateraan rakyat Brasil.

Tapi toh pembangunan dan renovasi banyak stadion yang ‘keteteran’ hingga mendekati hari H tetap dilanjutkan. Brasil bergeming dengan jeritan rakyatnya yang menentang Piala Dunia. Mereka lebih memilih memenuhi tuntutan FIFA terhadap venue Piala Dunia sesuai standar yang ditetapkan FIFA, daripada memenuhi tuntutan kesejahteraan rakyat mereka. Dan akhirnya Piala Dunia berlangsung (kembali) di Brasil, dengan biaya sangat mahal dan Brasil pun (sekali lagi) harus membayarnya dengan lebih mahal ketika laju turnamen sampai di babak semifinal.

Setelah melewati babak penyisihan dan fase 16 besar, serta perempat final dengan gagah perkasa, Brasil tiba di semifinal dengan lawan yang tangguh, Jerman. Tim spesialis turnamen, juara dunia tiga kali dan berjuluk De Panzer.

Brasil dan suporternya (minus) sebagian masyarakat yang menolak Piala Dunia memang tidak ‘mabuk kemenangan’ sebelum bertanding sebagaimana yang terjadi di tahun 1950. Tapi rasa percaya diri mereka dengan sejarah bahwa mereka adalah yang paling banyak merengkuh Piala Dunia(lima kali). Berbeda dengan 64 tahun sebelumnya yang bahkan sekali pun belum pernah juara dunia. Faktor lain tentu saja karena mereka bertanding di ‘rumah’, lalu skuad mereka diisi bintang-bintang cemerlang dengan prestasi tak sembarang yang bertebaran di kompetisi Eropa.

Yang mereka sedikit lupa (barangkali) hanya bahwa Jerman adalah tim spesialis turnamen yang mental juaranya tak pernah diragukan. Hanya peluit tanda akhir pertandingan yang bisa menghentikan mereka.

Rabu, 9 Juli 2014 semifinal yang mempertemukan Brasil dan Jerman berlangsung di Estadio Mineirao. Sepuluh menit pertama Brasil mendominasi pertandingan dan tampaknya pertandingan akan menjadi ‘milik’ Brasil. Faktor belum pernah ada negara Eropa yang mampu menjadi juara jika Piala Dunia berlangsung di benua Amerika membuat banyak pengamat sedikit mengunggulkan Brasil.

Sedikit keraguan barangkali muncul karena absennya Neymar yang cedera parah dalam pertandingan sebelumnya, serta absennya palang pintu tangguh sekaligus kapten mereka Thiago Silva. Tapi mereka tak kehilangan optmisme.

Tapi rupanya hanya sepuluh menit pertama saja Brasil ‘memiliki’ pertandingan itu. setelah itu mereka mendadak menjadi sekumpulan orang-orang bodoh di lapangan yang tidak tahu harus berbuat apa. Nafsu menyerang yang membuat mereka asyik membuat celah di pertahanan yang berhasil dimanfaatkan para pemain Jerman.

Menit sebelas, tragedi kedua setelah Maracanazo 16 Juli 1950 dimulai. Thomas Muller mencetak gol pertama dengan leluasa karena ia ‘lupa dijaga’. Pemain bertahan Brasil sibuk ‘menghentikan’ Miroslav Klose, tapi kehilangan kewaspadaan pada pemain lain termasuk Muller yang licin di kotak penalti.

Gol pertama menyentak Brasil, sekilas sebiji gol tidak akan berarti apa-apa untuk tim sekelas Brasil. Siapa pun yang menyaksikan pertandingan itu, tentu akan berpikir, Brasil akan membalasnya. Segera atau tidak, Brasil akan membalasnya.

Tapi yang terjadi setelah gol pertama seperti sebuah anomali untuk sepuluh menit awal yang ‘berhasil’ untuk Brasil. Mereka seperti kebingungan dan mereka seperti bukan lagi orang-orang yang ada di sepuluh menit pertama.

Selang 12 menit kemudian Miroslav Klose yang ketat dijaga (yang disinyalir agar tak mencetak gol dan melewati rekor gol Ronaldo sebagai pencetak gol terbanyak di Piala Dunia) akhirnya benar-benar menjebol gawang Brasil dan gol itu mengejutkan lebih karena prosesnya tampak mudah bagi pemain-pemain Jerman. Seperti mencetak gol di gawang tim yang bukan Brasil.

Gol itu selain menjadi pukulan yang ‘menumbangkan’ tim Brasil juga membuat Klose benar-benar melewati rekor Ronaldo. Ibarat petinju yang terkapar karena pukulan telak untuk kali kedua, ketika mencoba berdiri maka ia tak setegap dan pandangan matanya tak sejernih sebelum terjatuh. Demikian juga dengan Brasil. Setelah gol kedua mereka benar-benar seperti petinju yang kalut dan nanar. Tak pelak Toni Kroos ‘mendaratkan pukulan telak’ lagi dengan gol ketiga semenit berselang. Belum sempat bisa mengatur nafas lagi, Kroos menghunjamkan pukulan kembali dua menit setelahnya. Baru tiga menit berdiri, Sami Khedira membuat tim Samba terkapar lagi. Hanya dalam 19 menit setelah 10 menit pertama yang ‘normal’ untuk tim sehebat mereka, mereka tersungkur lima kali.

 Bukan hanya suporter mereka yang terpana, tapi juga mata dunia. Barangkali para pencetak gol Jerman pun lebih banyak heran kenapa mereka bisa mencetak gol demi gol dengan begitu mudahnya alih-alih senang melakukannya.

Sungguh sulit untuk berharap sebuah tim (tim mana pun itu) akan mampu membalikkan keadaan ketika selisih golnya adalah lima. Babak kedua dimulai dengan tatapan kosong pada sebelas pemain berkaos kuning. Mata mereka dan para suporternya pun sama kosongnya. Jerman semakin tangguh untuk dilawan. Serangan mereka yang ‘tak bernyawa’ tak bisa menembus pertahanan Jerman yang terlanjur kokoh karena angin sejuk yang berhembus dari gol yang berjumlah lima di babak pertama.

Sungguh tak adil untuk mengatakan bahwa para pemain Brasil menjadi sekumpulan orang-orang konyol yang berlari-lari di lapangan tanpa tujuan yang jelas, seperti orang-orang tak pernah bermain bola sebelumnya. Tapi kenyataan di lapangan mengatakan lebih dari itu. Apalagi ketika Andre Schurrle menambah dua ‘pukulan’ lagi. Meski di menit terakhir Oscar ‘berhasil’ mencetak sebiji gol balasan, tapi gol itu sedikit pun tak bisa menawarkan rasa pahit dari kekalahan itu. Mereka tersingkir dengan cara yang menyakitkan.

Tragedi kedua kali tak terelakkan lagi terjadi. Kali ini jauh lebih memalukan jika dilihat dari jumlah gol yang mengoyak gawang mereka. Penderitaan mereka tak cukup sampai di sini. Rupanya belum puas aib memberangus Brasil di rumah mereka sendiri. Dalam laga perebutan tempat ketiga, Belanda 'gantian' mempermalukan mereka dengan skor 3 - 0.

Piala Dunia ‘mahal’ yang menguras uang negara harus dibayar lebih mahal karena mereka tersingkir dengan cara yang amat menyakitkan dan memalukan. Untuk kali keduanya Brasil gagal menjadi juara di ‘rumah’. Maracanazo sudah dianggap aib, sulit dilupakan, membuat pemain yang terlibat ‘harus menanggung dosa’ seumur hidup mereka, membuat mereka trauma kala resmi ditunjuk (kembali) menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014, dan ternyata ketakutan mereka menjadi nyata. Tapi Maracanazo bisa jadi tak lebih memalukan dibanding apa yang terjadi di Estadio Mineirao yang kemudian media memelintirnya menjadi ‘Mineirazo’ atau tragedi Mineirao, mengacu pada tragedi Maracanazo.

Barangkali tak akan dianggap aib atau pun tragedi seandainya Brasil tak lebih dulu merasa menang sebelum bertanding pada final round melawan Uruguay. Euforia mereka barangkali terlalu berlebihan seakan kemenangan sudah di tangan, padahal segala sesuatu bisa terjadi pada pertandingan sepak bola yang lamanya 90 menit. (Hal yang juga pernah terjadi pada tim nasional Indonesia dalam gelaran Piala AFF 2010, di mana Indonesia ‘yang sudah merasa menang’ bahkan sebelum final dimainkan harus menerima kenyataan bahwa Malaysia mampu menggulungnya dengan skor 3 – 0 di final leg pertama. Indonesia yang tersentak oleh kejutan itu hanya mampu menang 2 – 1 di Jakarta dan kemenangan yang sudah dianggap dalam genggaman menjadi halusinasi palsu yang memabukkan sehingga sulit diterima kala melihat kenyataan bahwa Malaysialah juaranya).

Ketika Uruguay ternyata mampu mempecundangi mereka, mereka menganggap bahwa itu tragedi, memalukan, menumpahkan kesalahan ‘hanya’ pada pemain. Barangkali juga karena mereka terlalu jumawa karena mempersiapkan upacara kemenangan ‘hanya untuk Brasil’ tanpa memperhitungkan bahwa kemenangan untuk Uruguay pun mungkin terjadi, dan kenyataannya memang terjadi.

Belakangan juga muncul tudingan berdosa kepada Federasi sepak bola Brasil yang kala itu memaksakan sistem berbeda demi keuntungan bisnis.

Tragedi kedua di semifinal Piala Dunia 2014 barangkali bukan lagi ‘dosa berjamaah’ tapi (barangkali) lebih karena ‘karma’ untuk Brasil yang ‘jor-joran’ memanjakan FIFA dengan segala tuntutannya mengenai segala sesuatu yang layak untuk menyelenggarakan Piala Dunia dengan membangun stadion-stadion megah lengkap dengan sarana dan prasarananya yang menghisap dana pemerintah, tapi melupakan jutaan rakyat mereka yang menjerit karena masalah kemiskinan dan kesejahteraan. Piala Dunia tetap diselenggarakan tanpa mempedulikan mereka.

Piala Dunia era sekarang adalah Piala Dunia yang penuh dengan gemerlap. FIFA memiliki standar bagi negara-negara yang berminat menggelar Piala Dunia di ‘halaman rumah’ mereka. Minimal harus memiliki 8 sampai 10 stadion bintang 5 dengan kapasitas tempat duduk di atas 50 ribu orang. Stadion itu sendiri juga harus memiliki sarana lengkap. Belum tetek bengek lain yang tentunya sangat mahal bila sebuah negara harus membangunnya dari nol.

Negara elit Eropa seperti Inggris, Jerman, Italia, atau Spanyol barangkali tak akan terlalu pusing soal stadion atau sarana lain yang mereka memang sudah memilikinya sejak lama. Jika mereka akan menjadi tuan rumah Piala Dunia mungkin cukup memperbaikinya saja. Tapi negara-negara lain yang tak memiliki sarana-saana itu tapi ingin menyelenggarakan Piala Dunia, seperti Brasil dan Afrika Selatan sebelumnya, tentu harus ‘berantem’ dulu dengan rakyatnya karena biaya untuk menyediakan sarana-sarana’standar FIFA’ mahal sekali adanya.

Jangan lupa bahwa FIFA sekarang sudah menjelma menjadi organisasi bisnis, alih-alih mengelola sepak bola dunia. Semua sarana harus sesuai dengan keinginan para penyandang dana (sponsor). Sepak bola sekarang adalah industri, orientasinya bisnis. Jadi biarlah Piala Dunia berlangsung di tempat yang memang mampu menyelenggarakannya. Pesertanya pun biarlah mereka saja yang punya darah birunya. Darah kita merah, kita bisa selenggarakan piala “dunia kita sendiri” bersama kawan-kawan kita sesama darah merah.

Pelajaran yang bisa kita petik dari dua tragedi itu adalah, pertama, janganlah merasa memiliki sesuatu yang masih disimpan waktu di masa depan. Meski masa depan itu hanya berjarak satu jam dari sekarang dan kita memiliki lebih dari sekedar peluang besar untuk memilikinya. Jangan merasa menang sebelum perang dilakukan, dan dalam perang itu kita mampu kalahkan musuh. Hormati lawan dan siapkan upacara kemenangan untuk siapa saja, termasuk lawan. Jangan menilai musuh sebelum kita menghadapi dan merasakan keras atau lembeknya perlawanannya.

Kedua, jangan karena mencintai sepak bola lalu menganggap bahwa kita juga harus ikut piala dunia, harus menjuarai AFF, harus menjadi tuan rumah piala dunia, harus ini atau harus itu. Afrika Selatan dan Brasil adalah contoh nyata dari ambisi mengejar keagungan dan kegemerlapan Piala Dunia di ‘halaman rumah’ yang fatamorgana. Stadion-stadion milyaran dollar mereka pada akhirnya hanya memberi kebanggaan sebulan saja.

Tendanglah bola sekuat kaki kita melakukannya, mainkan secerdas kita menyiasatinya. Sepak bola anak-anak kita di halaman tak terikat dan terafiliasi kemana-mana, tapi kegembiraan tetap mewarnainya, bahkan bagi mereka yang menderita kalah.

gambar

Cerpen Sepak Bola : Kemenangan 'Si Biru' di Brasil

 

Situasi di depan mulut gawang Brasil tampak gawat. Teriakan suporter Perancis yang membahana di dalam stadion Stade de France dan suara reporter televisi yang mengurai kata-kata mendebarkan membuat suasana di depan tivi kecil di rumah keluarga Felix, di perkampungan padat di pinggiran kota Sao Paulo sunyi. Senyap. Degup jantung orang-orang yang bertebaran lantai dengan posisi duduk tak nyaman beserta kekhawatirannya seperti bisa terdengar saja layaknya.

Orang-orang yang memenuhi ambang pintu, karena ruang menonton tivi keluarga Felix penuh sesak, dan orang-orang yang melihat dari jendela juga terkesiap, bahkan berkeringat melihat pemain-pemain Perancis begitu sengit dan bersemangat menyerang pertahanan Brasil.

“Jangan, jangan,” suara Ricardo, ayah Felix terdengar lemah, namun cukup untuk membuat orang-orang di sekelilingnya ikut berharap.

Tapi sundulan Zidane akhirnya benar-benar memupuskan harapan, ‘jangan’, ayah Felix. Jala gawang Brasil benar-benar terkoyak oleh bola sundulan tak terduga yang meluncur cepat seperti meteor itu. Kepala licin Zidane seketika membangkitkan kebencian orang-orang di depan tivi kecil itu. Suasana suram yang sunyi kian senyap oleh gol itu. Mereka seperti merasakan sakit yang sangat hingga tak mampu bersuara.

“Hore! Gol!”

Teriakan itu kecil dan sendiri. Semua mata lantas menemukan siapa yang girang karena gol menyakitkan itu. Eva, adik Felix yang berteriak itu.

“Hei, apa maksudmu?”

“Hei, Ricardo, sejak kapan kau mengajari anakmu mendukung Perancis?”

Suara-suara bernada jengkel sejenak bersahutan. Ricardo tampak jengkel, sebenarnya ia lebih jengkel kepada orang-orang yang tak tahu diri itu. Hanya anak kecil yang tak tahu apa arti yang sedang mereka lihat di tivi. Tapi ia mencoba menahan diri.

“Eva, diam kau. Kau tak tahu apa artinya!”

Eva diam saja. Ia heran, biasanya ayah dan kakaknya akan senang jika ada bola masuk ke gawang yang mereka sebut dengan, goool, sambil berteriak dan berjingkrak kegirangan. Ia memandang kakaknya yang menempelkan ujung telunjuknya di bibir.

“Brasil itu yang berbaju kuning, lihat, kau lihat, Ronaldo? Pakai baju kuning. Itu Brasil. Diamlah, orang-orang bisa memarahi dan memukuli ayah kalau kau berteriak seperti tadi,” kata Felix pada adiknya dengan setengah berbisik.

Pertandingan terus berlangsung,  Felix duduk nyaman bersama Eva di sofa berlubang kesayangan mereka, di mana pada ujung tempat tangan tertumpang di kiri dan kanan sofa ada lubang yang timbul dari kebiasaan tangan Felix dan Eva mencerabuti busanya. Lubang itu kian hari kian membesar seperti lubang tanah di pertambangan.

“Ronaldo akan membalasnya sebentar lagi,” kata Luis, kawan akrab ayah Felix yang jika sudah berbincang tentang sejarah sepak bola Brasil sampai lupa waktu dan berbusa-busa. “Pulang kau, Luis!” terkadang Gracia, ibu Felix sampai meradang dan mengusirnya.

“Ya, Perancis pantas malu di rumahnya sendiri,” tukas yang lain dan sejenak suara mendukung membangkitkan semangat yang sempat ‘terlempar’ oleh koyaknya gawang Taffarel

Tapi Brasil belum juga segera membalas. Mereka justru melihat bahwa gol Zidane membuat Perancis semakin ganas. Berulangkali justru gawang merekalah yang terus terancam. Semangat yang sempat menyeruak kembali tenggelam. Tapi tak benar-benar tenggelam. Mereka sangat percaya bahwa Brasil akan memenangkan kejuaraan ini, membawa pulang Piala Dunia lagi untuk yang kelima kali.

Empat tahun lalu mereka memenangkannya di Amerika. Felix masih kecil ketika itu, ia sudah bisa ikut bergembira tapi belum tahu artinya. Sekarang di sekolah, Felix sudah tahu tentang Brasil yang sepak bolanya terkenal di dunia, dan sudah empat kali juara dunia.

Tahun ini sebentar lagi Brasil akan memenangkannya lagi. Semalam ia sudah tak sabar menunggu pertandingan ini. Tapi kekecewaan dan kekhawatiran kini memenuhi pikiran Felix. Brasil sulit untuk mendekati gawang Perancis. Sebaliknya Perancis terus membuat ia dan orang-orang di depan tivi tercekam.
Kenyataan di layar tivi menenggelamkan harapan itu sekali lagi. Zidane mencetak gol kedua untuk Perancis. Wajah-wajah yang memenuhi rumah Felix kian suram. Mereka sulit untuk percaya bahwa Brasil dibobol untuk kali kedua. Kekecewaan itu menjadi semakin sakit ketika Eva kembali bereaksi kegirangan menyambut gol Zidane.

“Hore! Goool!”

“Diam kau, tak tahu diri!” ayah Felix berteriak sebelum suara-suara mendahuluinya. Eva terdiam dan raut muka girangnya hilang seketika berganti ketakutan. Teriakan Ricardo tak bisa menghentikan suara menggerutu dari orang-orang itu.

“Hentikan anakmu sebelum dia tumbuh menjadi pengkhianat, Ricardo!”

“Kalau kau tak bisa, kami bisa membungkam mulutnya untukmu!”

“Berhentilah, dia hanya anak kecil. Dia akan menyesal ketika ia dewasa nanti!”

Tapi kekecewaan dan kemarahan terlanjur melumuri suasana hati mereka. Dua gol Zidane dan teriakan Eva yang girang menyambutnya membuat suara menghujat Ricardo terus bersahutan.

“Suruh anakmu yang berhenti, atau tivimu akan kami hancurkan!

“Kuperingatkan kau!”

Suasana mencekam di rumah Felix kini bukan hanya karena dua gol Zidane yang menenggelamkan semangat mereka, menenggelamkan harapan Brasil menjuarai Piala Dunia 1998 di tanah Perancis. Tapi juga karena teriakan girang Eva menyambut gol Zidane yang membuat mereka melontarkan makian dan kebencian. Mereka tak peduli selain kekecewaan perasaan mereka karena kemenangan Brasil sepertinya terasa kian berat setelah dua gol Zidane.

Babak pertama usai dengan kedudukan 2 – 0 sementara untuk tuan rumah Perancis. Beberapa orang ada yang pergi karena mereka tak yakin jika Brasil akan bisa mengembalikan kedudukan. Mencetak satu gol saja sepertinya sulit dilakukan, sekarang mereka harus membuat tiga gol jika ingin Piala Dunia kembali pulang ke tanah Brasil.

Tapi sebagian besar terus bertahan karena mereka percaya Brasil akan menang. Dan tiupan peluit dimulainya babak kedua kembali membuncahkan harapan itu. Luis yang tak ubahnya komentator tivi di rumah Felix itu mengatakan sesuatu yang mempengaruhi orang-orang di sana.

“Di ruang ganti, pelatih sudah mempersiapkan strategi untuk babak kedua. Babak pertama memang milik Perancis, tapi babak kedua milik Brasil!” kata Luis berapi-api.

“Hidup Brasil!”

“Hidup Brasil!”

“Hidup Brasil!”

Teriakan itu membuat suasana menghangat, kejengkelan oleh dua gol Zidane di babak pertama dan teriakan Eva yang girang menyambutnya sedikit terlupakan. Harapan kian menyala terang ketika Dessaily yang licik itu, menurut mereka, mendapat kartu merah. Luis menjadi pemandu semangat yang membuat harapan kembali mencuat.

Tapi harapan yang dikatakan Luis tak terbukti apa-apa di layar. Pemain Brasil tetap kesulitan membongkar pertahanan Perancis. Mereka sepertinya bermain dengan cara yang sama di babak pertama. Tak ada yang berubah. Pemain-pemain Brasil seperti sekumpulan orang-orang bodoh yang kebingungan oleh cantiknya permainan yang dibuat pemain-pemain Perancis. Menurut mereka.

“Perancis semakin menggila tampaknya, Luis,”

“Kita harus bersabar. Gol akan datang,”

Mereka masih percaya sampai ketika akhirnya Emannuel Petit benar-benar membungkam Brasil dengan golnya untuk melengkapi dua gol Zidane, sementara waktu sudah hampir habis. Luis tampak lemas, kata-katanya yang penuh harapan terkubur dalam-dalam. Brasil bobol lagi untuk yang ketiga kalinya.

0 – 3.

“Goool! Si Kuncir itu hebat!”

Eva tetap girang menyambut gol Petit. Felix segera membungkam mulut Eva dengan tangannya. Sejenak, ibunya pun menghambur memeluknya. Karena orang-orang yang tadi sudah memendam kekesalan pada teriakannya seketika berdiri mendengar teriakan girang Eva sekali lagi.

“Hei, anak bodoh! Kau tahu apa artinya itu?”

“Ricardo, tivimu itu tidak berguna. Tak bisa membuat anakmu tahu sedihnya rakyat Brasil oleh gol-gol orang Perancis!”

Ayah Felix berdiri dan bertolak pinggang.

“Dia masih anak-anak. Dia tak tahu apa arti ini semua. Dia baru tahu tentang gol!”

“Kau lihat anakku, Ricardo, dia sedih. Dia tahu Brasil bisa kalah dengan tiga gol itu!”

“Mari kita bantu Ricardo menghancurkan tivinya!”

Luis berdiri di samping Ricardo dan menatap orang-orang yang berteriak dan sebagian sudah berdiri dengan kemarahan.

“Kalian ingin menghukum anak kecil?”

“Kau terlalu banyak bicara, Luis. Apalagi yang bisa kau katakan untuk membohongi kami, strategi babak kedua? Gol balasan Brasil? Tiga gol di gawang Brasil untuk Perancis! Pemain-pemain itu bodoh, dan, kau, kau tak tahu apa-apa!”

“Kenapa bukan kalian saja tadi yang terbang ke Perancis, membuat gol dan bawa pulang Piala Dunia ke Brasil. Mereka berlari-lari untuk kita dan kita di sini bergandengan tangan untuk saling menguatkan, bukan menghujat anak kecil yang belum tahu apa arti semua ini. Kekalahan ini bukan salahnya!”

Orang-orang diam.

“Tapi teriakannya menyakiti perasaan kami!”

“Jika dia sudah dewasa dan tahu apa arti gol-gol tadi, dia juga akan sakit dengan teriakannya sendiri, dia masih anak-anak!”

Orang-orang yang masih marah dan kecewa kemudian pergi, membawa kekalahan beserta kekecewaan yang mereka rasakan sebagai luka. Brasil kalah tiga gol telak dan seorang anak Brasil girang menyambutnya.
Mendung menggayut di langit Sao Paulo. Jalanan sepi, tak ada suara terompet dan pawai berkeliling seperti beberapa hari lalu, ketika Brasil memastikan diri ke final. Sunyi dan lesu.

“Kenapa Eva? Ayah sudah menyuruhmu diam, kau tak tahu apa artinya, teriakanmu bisa menghancurkan rumah ini,” kata Ricardo pada putri kecilnya yang kecut dan takut karena kemarahan orang-orang hampir saja merusak rumah mereka.

“Aku suka warna biru, ayah. Kata Ibu, warna biru adalah warna terindah di dunia, ” kata Eva lirih. Ricardo, Luis dan Gracia saling berpandangan. Perlahan mereka mengerti, Eva tak tahu arti yang terlihat di tivi, ia baru tahu mengagumi warna dengan sederhana, bukan dengan cara orang dewasa.

Luis lalu tertawa kecil, disusul Ricardo, dan sedikit senyum Gracia yang sedikit merasa bersalah, karena apa-apa yang ia katakan mengenai warna setiap menemani putrinya belajar menggambar, hampir saja membuat rumah mereka hancur.


*) Kisah ini fiksi rekaan penulis saja, bukan saduran bukan juga kopian. Sejarah-sejarah sepak bola tak pernah kehabisan jalan untuk kembali diceritakan.
gambar

Senin, Januari 18, 2016

Prediksi : Tim yang Bisa Menyingkirkan Bayern Munchen Akan Juarai Liga Champions 2015/2016



Mengacu pada gelaran Liga Champions Eropa sejak musim 2008/2009 hingga 2014/2015, ada ‘fenomena’ unik yang mungkin tak begitu banyak dilirik. Tim yang sukses menjadi juara adalah tim yang mengalahkan Bayern Munchen. Ketika tak ada yang mampu mengalahkan, Munchen-lah juaranya.

Anomali hanya terjadi pada musim 2010/2011 di mana Internazionale Milan yang mengalahkan Munchen di babak 16 besar tak menjadi juara karena kemudian dikalahkan wakil Jerman lain, Schalke 04 di perempat final. Lalu Schalke sendiri dikalahkan Manchester United di semifinal, dan di final mereka kalah dari Barcelona yang akhirnya menjadi juara.

Tapi selain musim 2010/2011, tim-tim yang menjadi juara adalah tim yang mengalahkan Bayern Munchen. Di musim 2012/2013 ketika tak ada tim yang sanggup mengalahkan Munchen, termasuk Borussia Dortmund dalam pertandingan final, maka Bayern Munchen-lah yang juara.

Di musim 2008/2009 – yang adalah merupakan musim fenomenal bagi FC Barcelona di mana pada musim perdananya melatih Blaugrana, Pep Guardiola yang banyak diragukan mengantar timnya meraih treble winners serta mengangkangi tiga trofi lainnya sehingga total Barcelona merebut semua trofi yang mungkin diraih sebuah tim dalam semusim – Barcelona menjadi juara setelah mengandaskan Manchester United di final. Sebelumnya, mereka mengalahkan Bayern Munchen di perempat final dan Chelsea di semifinal.

Musim 2009/2010, Internazionale Milan yang saat itu dilatih Jose Mourinho menjadi juara Liga Champions setelah mengalahkan Bayern Munchen di final. Di tahun itu juga Inter meraih treble winner.

Musim berikutnya 2010/2011 terjadi anomali. Inter Milan yang kembali mengalahkan Munchen di babak 16 besar gagal mengulangi sukses musim sebelumnya karena kemudian disingkirkan Schalke di perempat final. Schalke kemudian digulung Manchester United, yang kemudian dikalahkan Barcelona di final.

Di 2011/2012, Chelsea dibawah asuhan Caretaker Roberto Di Matteo menjadi juara setelah mengalahkan Bayern Munchen di final. Ini menjadi raihan luar biasa bagi Chelsea sejak kepemilikannya diambil alih Roma Abramovich.

Dan di musim selanjutnya 2012/2013, tak ada tim termasuk Dortmund di final yang sanggup mengalahkan Bayern Munchen, sehingga Bayern Munchen menjadi juara di musim ini.

Musim 2013/2014 adalah musimnya Real Madrid. Dalam final sesama Spanyol, mereka mengalahkan tim sekota Atletico Madrid. Perlu diingat bahwa di semifinal mereka menyingkirkan juara bertahan Bayern Munchen.

Terakhir, masih segar dalam ingatan, musim 2014/2015 yang baru lalu, Barcelona kembali sukses di ajang Liga Champions Eropa setelah mengubur harapan Juventus di final. Sekali lagi Barcelona masuk final setelah lebih dulu menghentikan Bayern Munchen di semifinal.

‘Fenomena’ ini tentu saja hanya ‘gelitikan’ pikiran saya saja. Tidak untuk dijadikan patokan apalagi untuk diperdebatkan. Dan namanya juga prediksi, bukan ramalan, boleh-boleh saja to, jika saya katakan bahwa tim yang memiliki peluang paling besar untuk menjadi Juara Liga Champions adalah tim yang berhasil menyingkirkan Bayern Munchen, jika mengacu pada catatan beberapa gelaran terakhir sejak musim 2008/2009?

Bagaimana jika tak ada yang bisa menghentikan Bayern Munchen? Tentu saja Bayern Munchen akan menjadi juara. Memangnya Liga Champions hanya persoalan mengalahkan Bayern Munchen, setelah itu gelar dan trofi pasti di tangan? Bukankah Juventus – yang di babak 16 besar ini ‘beruntung’ akan menghadapi Bayern Munchen – setelah (misalnya mampu) mengalahkan Bayern Munchen, harus mengalahkan tim yang menghadangnya di babak perempat final, lalu jika menang masih ada tim lain lagi yang akan menghadangnya di semifinal, lalu final? Karpet merah baru akan tergelar setelah lawan di final dikalahkan, kawan!

Memang, persaingan menuju tangga juara tak semudah dan sesederhana imajinasi yang mengutak-atik catatan dari gelaran yang sudah usang. Gothak-gathuk waton mathuk (utak-atik asal ngeklik (biarpun maksa)). Kenyataan di lapangan dengan imajinasi kita sebagai penonton dari ‘lain dunia’ jelas berbeda.

Tapi sepak bola memang telah membuat orang (penggemar atau pengamat) menghubung-hubungkan catatan-catatan lampau dengan imajinasi mereka, membuat ‘benang merah’, mencampurnya, lalu membuat prediksi-prediksi yang (uniknya) terkadang bisa kebetulan benar.

Apalagi sekarang para pelatih tim sepak bola sudah menggunakan statistik baik dalam membaca kekuatan lawan, meracik taktik, bahkan menyusun starting eleven. Catatan tentang apa pun sekarang memiliki pengaruh terhadap kehidupan sepak bola. Jurnalis (yang berjualan) sepak bola juga menggunakan statistik dan bermacam catatan, termasuk catatan sejarah untuk melengkapi ulasan sehingga menjadi kemasan berita yang menarik.

Mungkin ‘fenomena’ tim yang sanggup menyingkirkan Bayern Munchen akan menjadi Juara Liga Champions, mengacu pada catatan tujuh gelaran terakhir minus musim 2010/2011, bukan hanya menggelitik saya saja, tapi juga banyak orang yang gemar mengamati. Bahkan mungkin para jurnalis.

Orang bisa menyanggah atau mementahkannya dengan argumen lain, tapi boleh diyakini bahwa jika catatan ini disodorkan pada Juventus, ini bisa menambah moral mereka, bisa menggandakan energi mereka menjadi berlipat-lipat kali. Statistik, catatan, atau apa pun namanya, sekarang sudah menjadi perhatian besar bagi tim-tim sepak bola.

Jika pun Juventus kalah dari Bayern di babak 16 besar, tak akan mengurangi dampak dari catatan ini bagi tim mana saja yang akan bertemu Bayern selanjutnya di babak perempat final. Sekali lagi ini hanyalah prediksi berdasarkan catatan (usang) yang bisa saja salah, tapi tetap tak mengurangi persentase peluangnya untuk menjadi nyata.

Setiap gelaran meninggalkan catatan dan dari catatan-catatan yang ada terkadang ada benang merah yang tertangkap dan imajinasi manusia mencoba menghidupkan alurnya, menyambungkannya ke sebuah titik di masa depan yang belum lagi terjadi. Sesekali terkadang waktu mengamini, maka di situlah kemudian manusia kecanduan untuk melakukannya lagi. Menjadi nyata atau meleset, bermain imajinasi berbumbu catatan tetap mengasyikkan.

Italia, Arsene Wenger, dan Ballon d'Or

 

Ajang Pemilihan Pemain Terbaik Dunia bertajuk Ballon d’Or 2015 berakhir sudah. Pemenangnya adalah sosok yang sebelumnya sudah diprediksi dan diduga akan memenangkannya, yaitu mega bintang Barcelona, Lionel Messi. Pemilihan ini menyisakan hal-hal ‘spektakuler’ seperti raihan lima kali Ballon d’Or Messi sebagai yang terbanyak dan (barangkali) sulit untuk dikejar apalagi dilewati, dan (perlahan tapi pasti) mulai merangseknya Neymar dalam ‘perebutan julukan’ sebagai yang terbaik di dunia. Mencuatnya nama Wendell Lira – yang bukan pemain top dan berasal dari klub tak terkenal di Liga Brasil – merebut Puskas Award dengan gol cantik (yang menariknya) mengalahkan gol keren Lionel Messi yang juga masuk nominasi adalah kejutan lainnya.

Tapi (lagi-lagi) Ballon d’Or 2015 menyisakan ketidakpuasan dan suara-suara nyinyir sebagaimana setiap ajang ini berakhir seperti sebelum-sebelumnya. Jika tahun lalu dan beberapa tahun sebelumnya ajang ini menyisakan ketidakpuasan oleh banyak pihak yang merasa bahwa ‘kandidat ini’ lebih layak dengan posisi yang lebih baik, atau bahkan (seharusnya) meraih Ballon d’Or-nya ketimbang ‘kandidat itu’, tahun ini bertambah dengan suara ketidaksetujuan atau suara menentang beberapa pihak pada ajang ini.

Suara ketidakpuasan memang masih muncul dari pihak yang menilai atau menganggap bahwa Neymar lebih pantas menjadi runner up ketimbang Cristiano Ronaldo. Tapi yang sekarang lebih banyak mencuat ke ranah publik sepak bola adalah suara-suara yang menganggap bahwa ajang penghargaan (individu) ini mencederai nilai sepak bola itu sendiri sebagai permainan tim. Tidak seharusnya seorang pemain begitu dielu-elukan seakan ia satu-satunya faktor kesuksesan sebuah tim. Karena bagaimana pun kesuksesan sebuah tim sepak bola adalah hasil kerja kolektif 11 orang pemain.

Jika pun ada satu atau dua pemain yang menonjol dan perannya begitu vital untuk menghidupkan permainan dan mengangkat semangat dan moral tim, seharusnya tidak serta menjadi alasan untuk tak menganggap peran pemain lain.

Suara tak mendukung ajang ini disuarakan oleh arsitek Arsenal, Arsene Wenger yang menyatakan bahwa ia tak mendukung penghargaan individu karena sepak bola adalah permainan tim. Suara seperti itu bukan baru-baru ini saja muncul, melainkan sudah sejak lama dicuatkan. Tetapi memang sekarang ini gaungnya agak keras. Alasannya pun beragam. Jika sebelumnya hanya sosok-sosok tertentu saja yang menyuarakan, sekarang ini bisa dibilang mulai ramai.

Apalagi dalam setiap penyelenggaraannya, ajang ini dianggap sarat intrik dan sarat unsur politis. Beberapa nominator (yang akhirnya tak menang) seperti Frank Ribbery pernah terang-terangan mengungkap kekecewaannya lantaran ia merasa mencium aroma politis yang (katanya) kental terasa dalam pemilihan itu.
Hal miris lain yang tersisa dari ajang Ballon d’Or 2015 adalah tentang Italia yang (kabarnya) memboikot pemilihan itu dengan tak memilih. Dan lagi-lagi ini karena faktor ketidakpuasan. Menurut klaim media Italia, Sky, FIGC (PSSI-nya Italia) memerintahkan kepada pelatih dan kapten mereka Antonio Conte dan Gianluigi Buffon untuk tidak memilih dalam ajang itu. (Baca artikel terkait di sini)

Alasannya adalah sebagai bentuk protes karena Buffon tak masuk dalam daftar 49 pemain yang bisa dipilih sebagai pemenang. Padahal tahun lalu, sebagai kapten, Buffon sukses mengantar Juventus meraih Scudetto dan Copa Italia serta membawa Juve ke final Liga Champions di mana seharusnya pantas untuk membuatnya setidaknya masuk daftar 49 kandidat.

Ketidakpuasan dengan berbagai dalih atau suara menentang dengan bermacam argumentasi selalu mewarnai sebuah ajang pemilihan. Karena pemilihan ‘segala sesuatu’ yang terbaik pada dasarnya hanya memilih satu, sedangkan yang ingin menang, dan merasa pantas menang, atau setidaknya pantas dijagokan untuk menang jauh lebih banyak.

Sementara tidak bisa dipungkiri bahwa di balik layar sebuah ajang pemilihan selalu ada intrik yang dilakukan, selalu (dicurigai) ada politisasi di sana. Tak bisa dibantah juga bahwa pihak-pihak yang berwenang, pihak yang memiliki suara dalam ajang pemilihan terkadang main mata dengan pihak-pihak yang berkepentingan ‘untuk menang’.

Mengenai Ballon d’Or – yang merupakan penghargaan yang bersifat individu, yang tak mungkin dipungkiri bahwa siapa pun pemenangnya akan membawa kebanggaan pada klub atau negaranya – mulai banyak ditentang barangkali juga karena setiap tahun ajang ini dipoles dan dipropagandakan sedemikian rupa menjadi tampak glamor dan dijadikan sebagai raihan tertinggi secara individu seorang pemain sepak bola.
Mungkin setiap tahun akan muncul nama pemain yang benar-benar berhak untuk disebut pemain terbaik dunia jika ajang ini dilakukan seperti pada awalnya. Tidak usah dibuat polesan dan propaganda berlebihan. Tak perlu disebut penghargaan tertinggi, atau penghargaan bergengsi.

Tapi, apa menariknya mendapatkan sesuatu yang biasa-biasa saja, tak ada prestise, tak ada glamor, tak dianggap sebagai yang tertinggi dan paling bergengsi, tak perlu bersaing sengit untuk mendapatkannya, dan (kalau perlu) melakukan intrik. Timbul pertanyaan saya kenapa ajang itu harus tidak diadakan lagi. Sepak bola toh menjadi menarik bukan hanya karena permainannya di lapangan, tapi juga serba serbi kehidupan yang mengelilinginya yang membuat sepak bola menjadi semakin asyik untuk diperbincangkan, menarik untuk dicermati, dan terkadang mendebarkan.

Toh dalam permainan sepak bola itu sendiri kadang kurang gereget jika tak ada intrik. Jika Barcelona dan Real Madrid sekali saja mencoba bermain santun. Maka gereget El Clasico akan hambar bukan? Karena sepak bola memang bukan hanya soal permainan (lagi), tapi sepak bola telah berubah menjadi sesuatu yang membuat para pelaku dan semua yang terlibat, termasuk penggemarnya menjadi ‘gila’. Dan orang terlanjur menyukai kegilaan itu. Jika ada satu dua suara yang ingin ‘mengajak kembali pada kewarasan’, sepak bola terlanjur budheg.

Link rujukan : http://bola.liputan6.com/read/2409662/ini-alasan-italia-tak-memilih-di-fifa-ballon-dor-2015